<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>ASSUNNAH INDONESIA : www.darussalaf.or.id, www.salafy.or.id</title>
	<atom:link href="http://assunnahindonesia.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://assunnahindonesia.wordpress.com</link>
	<description>Menebar Sunnah, Kokoh di Atas Manhaj Salaf</description>
	<lastBuildDate>Thu, 30 Jul 2009 04:12:16 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='assunnahindonesia.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/5cc4e6f199a061e03e64dfaf002e47bf?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>ASSUNNAH INDONESIA : www.darussalaf.or.id, www.salafy.or.id</title>
		<link>http://assunnahindonesia.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://assunnahindonesia.wordpress.com/osd.xml" title="ASSUNNAH INDONESIA : www.darussalaf.or.id, www.salafy.or.id" />
		<item>
		<title>Mutiara Berkilau dari Bukhara (Biografi Al Imam Al Bukhari)</title>
		<link>http://assunnahindonesia.wordpress.com/2009/07/30/mutiara-berkilau-dari-bukhara-biografi-al-imam-al-bukhari/</link>
		<comments>http://assunnahindonesia.wordpress.com/2009/07/30/mutiara-berkilau-dari-bukhara-biografi-al-imam-al-bukhari/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 30 Jul 2009 03:41:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Kajian Islam Assunnah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Biografi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://assunnahindonesia.wordpress.com/?p=56</guid>
		<description><![CDATA[Bukhara merupakan sebuah daerah di belahan Asia Tengah. Daerah ini memang pernah menjadi jajahan  negara Rusia dan dimasukkan dalam sebuah persekutuan dengan negara &#8211; negara di sekitarnya yang lebih dikenal dengan sebutan Uni Sovyet dengan faham komunisnya. Namun seiring dengan perkembangan zaman dimana faham komunis tidak bisa lagi diterima oleh masyarakat maka tumbanglah kekuatan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=assunnahindonesia.wordpress.com&blog=8506513&post=56&subd=assunnahindonesia&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Bukhara merupakan sebuah daerah di belahan Asia Tengah. Daerah ini memang pernah menjadi jajahan  negara Rusia dan dimasukkan dalam sebuah persekutuan dengan negara &#8211; negara di sekitarnya yang lebih dikenal dengan sebutan Uni Sovyet dengan faham komunisnya. <span id="more-56"></span>Namun seiring dengan perkembangan zaman dimana faham komunis tidak bisa lagi diterima oleh masyarakat maka tumbanglah kekuatan raksasa Uni Sovyet dan menjadilah negara &#8211; negara persekutuan tersebut menjadi negara &#8211; negara yang merdeka, yang memiliki kedaulatan penuh dan terlepas dari kontrol pusat Rezim Kremlin, Rusia.  Dan siapa yang menyangka, bahwa dahulu pernah terlahir disana seorang manusia yang bakal menghebohkan dunia dengan kecerdasan dan kekuatan hafalannya yang luar biasa.  Nama Lengkap dan Tanggal Lahir :  Dia adalah Abu Abdillah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Al Mughirah bin Bardizbah Al Ju’fi , yang lebih dikenal dengan Imam Al Bukhori penulis kitab Shahih Al Bukhari.  Beliau dilahirkan pada hari Jum’at tanggal 13 Syawal th 194 Hijriah setelah shalat Jum’at di daerah Bukhoro. Oleh sebab itulah beliau dinisbahkan dengan Al Bukhari karena asal  tanah kelahiran beliau adalah dari daerah Bukhoro.  Kakek beliau yang bernama Bardizbah adalah berasal dari suku Persia yang menganut agama Majusi ( Penyembah Api ).  Kemudian anak Bardizbah yang bernama Al Mughiroh masuk Islam, yang mengislamkannya adalah seorang yang bernama Al Yaman Al Ju’fi. Oleh karena itulah beliau juga dinisbahkan dengan Al Ju’fi.  Bapak beliau yaitu Ismail meninggal, dalam keadaan beliau masih kecil. Dan beliau juga mengalami kebutaan semasa kecilnya. Namun ibunya terus menerus berdoa kepada Allah Ta’ala mengharapkan kesembuhan terhadap musibah kebutaan yang menimpa putra tercintanya.  Dan Allah Ta’ala pun mengabulkan permintaan dari sang hamba yang shalehah dengan memberikan kesembuhan kepada sang putra tercinta. Maka sejak saat itu sang putra tercinta dapat menikmati indahnya karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagaimana manusia yang lain.  Perjalanan Menuntut Ilmu :  Beliau mulai menghafal hadits pada usia sekitar 10 tahun dan ketika itu beliau belajar di sebuah Madrasah.  Ketika usia beliau menginjak 16 tahun, beliau telah menghafal kitab &#8211; kitab karya 2 orang tokoh Tabi’ut Tabi’in yaitu Abdullah ibnul Mubarak dan Waki’ ibnul Jarrah. Pada usia tersebut pula tepatnya pada tahun 120 H, beliau bersama ibu dan saudara laki &#8211; lakinya yang bernama Ahmad pergi menunaikan Haji ke Baitullah Al Haram di Mekkah. Dan setelah selesai menunaikan haji, beliau tetap tinggal di Mekkah dalam rangka menuntut ilmu. Sementara saudara laki &#8211; lakinya yang bernama Ahmad, kembali ke tempat asalnya di Bukhara. Ketika usia beliau mencapai 18 tahun, beliau menulis kitab ” Qodhoya Shohabah wa Tabi’in ” dan kitab ” At Tarikh “.  Beliau telah menuntut ilmu kepada 1080 masyaikh ( guru ) Ahlus Sunnah. Beliau telah melakukan rihlah ( perjalanan menuntut ilmu ) ke berbagai negeri seperti Balkh, Maru, Naisabur, Ray ( sekarang Teheran &#8211; Iran ), Baghdad, Basrah, Kufah, Makkah, Mesir, Syam, Hijaz dll.  Guru &#8211; guru ( Masyaikh ) beliau :  Telah disebutkan diatas bahwa beliau memiliki 1080 masyaikh ( guru ). Diantaranya  adalah :  1.    Di Negeri Balkh belajar kepada :  &#8211; Maky bin Ibrahim  2. Di Negeri Maru belajar kepada :  A.   Abdan bin Musa  B.    Ali bin Hasan bin Syaqiq  C.    Shadaqoh bin Al Fadhal  3. Di Negeri Naisabur belajar kepada :  &#8211; Yahya bin Yahya  4. Di Negeri Ray ( Teheran &#8211; Iran ) belajar kepada :  &#8211; Ibrahim bin Musa  5. Di Negeri Baghdad belajar kepada :  A.   Muhammad bin Isa Ath Thaba’  B.    Suraij bin An Nu’man  C.    Muhammad bin Sabiq  D.   ‘Affan  6. Di Negeri Basrah belajar kepada :  A.   Abu Ashim An Nabil  B.    Al Anshory  C.    Abdurrahman bin Hammad  D.   Muhammad bin ‘Ar’ur  E.    Hajjaj bin Minhal  F.     Badl bin Al Mihbar  G.   Abdullah bin Raja’  7. Di Negeri Kufah belajar kepada :  A.   Ubaidullah bin Musa  B.    Abu Nu’aim  C.    Khalid bin Al Makhlad  D.   Thalq bin Ghanam  E.    Kholid bin Yazid Al Muqri  8. Di Negeri Mekkah belajar kepada :  A.   Abu Abdurrahman Al Muqri  B.    Khalad bin Yahya  C.    Hisan bin Hisan Al Bashri  D.   Abul Walid Ahmad bin Muhammad Al Azraqi  E.    Al Humaidy  9. Di Negeri Madinah belajar kepada :  A.   Abdul ‘Aziz Al ‘Uwaisy  B.    Ayyub bin Sulaiman bin Bilal  C.    Ismail bin Abi Uwais  10. Di Negeri Mesir belajar kepada :  A.   Sa’id bin Abi Maryam  B.    Ahmad bin Iskab  C.    Abdullah bin Yusuf  D.   Asbagh bin Al Faraj  11. Di Negeri Syam belajar kepada :  A.   Abul Yaman Al Hakam bin Nafi’  B.    Adam bin Abi Iyas  C.    Ali bin ‘Ayyas  D.   Bisyr bin Syu’aib  Dan juga para tokoh &#8211; tokoh ulama besar yang lain semisal Ishaq bin Rahuyah, Ahmad bin Hanbal, Yahya bin Ma’in, Ali bin Al Madini, Nu’aim bin Hammad, Muhammad bin Yahya Adz Dzuhli  dll.  Murid &#8211; Murid Beliau :  1.    Imam Muslim bin Al Hajjaj  2.    Imam At Tirmidzi  3.    Imam Ibnu Khuzaimah  4.    Abu Hatim  dll.  Akhlak dan Ibadah beliau :  Beliau pernah mengatakan :Aku berharap untuk bisa bertemu Allah. Dan aku berharap ketika nanti berada di Hari Perhitungan amalan, aku dalam keadaan tidak berbuat Ghibah ( suatu perbuatan yang menyebutkan saudaranya sesama muslim dengan apa &#8211; apa yang tidak disukainya jikalau ia mendengarnya ) kepada seorang pun.  Hal ini menunjukkan akan takutnya beliau terhadap perbuatan Ghibah.  Al kisah suatu hari beliau sedang melaksanakan shalat. Tiba &#8211; tiba datang seekor kumbang besar datang menyengat beliau yang sedang shalat sebanyak 17 kali sengatan. Maka tatkala selesai dari menunaikan shalatnya, dia bertanya kepada orang &#8211; orang yang ada di sekitarnya : ” tolong lihatlah ! apa yang telah membuatku sakit ini “. Maka merekapun mendapati seekor kumbang besar telah menyengat beliau sebanyak 17 sengatan dalam keadaan beliau tidak membatalkan shalatnya.  Beliau berkata : Tidaklah aku letakkan sebuah hadits di kitab shahihku ini kecuali aku mandi terlebih dahulu dan shalat 2 rakaat.  Wafat Beliau :  Beliau mengalami fitnah yang sangat dahsyat yang dihembuskan oleh orang &#8211; orang yang merasa iri terhadap keutamaan dari Allah yang diberikan kepada beliau. Dan tidaklah beliau menginjakkan kaki ke suatu negeri kecuali penduduk negeri tersebut mengusirnya sebagai akibat dari hembusan angin fitnah yang disebarkan oleh orang &#8211; orang yang iri. Karena beliau mengalami pengusiran beberapa kali, maka beliau memilih untuk kembali ke daerah Khartanka yaitu sebuah wilayah bagian dari negeri Samarkand (sekarang menjadi ibukota negara Uzbekistan di Asia Tengah ). Beliau pergi ke daerah tersebut karena banyak dari karib kerabatnya yang tinggal di daerah tersebut. Beliau merasakan bahwa hidup ini terasa berat sekali, dan bumi yang luas terasa sempit bagi beliau. Hingga pada suatu malam tatkala beliau selesai menunaikan shalat malam ( Tahajud ), beliau berdoa kepada Allah agar diberikan jalan yang terbaik baginya. Kemudian beberapa hari setelah itu beliau mengalami sakit yang cukup keras. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala mengetahui betapa berat penderitaan yang dialami oleh salah seorang hamba-Nya yang sholeh ini, maka sebagai bentuk Maha Belas Kasih Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada hamba-Nya tersebut, beliau dipanggil oleh Allah yang Maha Pengasih lagi Maha penyayang pada hari Sabtu malam ‘Idul Fitri, pada tahun 256 Hijriah. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala merahmati beliau. http://darussalaf.or.id/stories.php?id=1517 http://www.assalafy.org/mahad/?p=331#more-331</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/assunnahindonesia.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/assunnahindonesia.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/assunnahindonesia.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/assunnahindonesia.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/assunnahindonesia.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/assunnahindonesia.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/assunnahindonesia.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/assunnahindonesia.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/assunnahindonesia.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/assunnahindonesia.wordpress.com/56/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=assunnahindonesia.wordpress.com&blog=8506513&post=56&subd=assunnahindonesia&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://assunnahindonesia.wordpress.com/2009/07/30/mutiara-berkilau-dari-bukhara-biografi-al-imam-al-bukhari/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f495a24dbd70dd1bb48151a098184ae7?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Kajian Islam Assunnah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tuntunan Berpakaian Dan Berhijab</title>
		<link>http://assunnahindonesia.wordpress.com/2009/07/24/tuntunan-berpakaian-dan-berhijab/</link>
		<comments>http://assunnahindonesia.wordpress.com/2009/07/24/tuntunan-berpakaian-dan-berhijab/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 24 Jul 2009 09:29:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Kajian Islam Assunnah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Muslimah]]></category>
		<category><![CDATA[akhwat]]></category>
		<category><![CDATA[berjilbab]]></category>
		<category><![CDATA[hijab]]></category>
		<category><![CDATA[jilbab]]></category>
		<category><![CDATA[tuntunan berpakaian]]></category>
		<category><![CDATA[ummahat]]></category>
		<category><![CDATA[wanita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://assunnahindonesia.wordpress.com/?p=52</guid>
		<description><![CDATA[A. Sifat Pakaian yang Disyariatkan bagi Wanita Muslimah

1. Diwajibkan pakaian wanita muslimah itu menutupi seluruh badannya dari (pandangan) laki-laki yang bukan mahramnya. Dan janganlah terbuka untuk mahram-mahramnya kecuali yang telah terbiasa terbuka seperti wajah, kedua telapak tangan dan kedua kakinya.
2. Agar pakaian itu menutupi apa yang ada di sebaliknya (yakni tubuhnya), janganlah terlalu tipis (transparan), [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=assunnahindonesia.wordpress.com&blog=8506513&post=52&subd=assunnahindonesia&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><span style="font-family:Tahoma,Verdana,Arial,sans-serif;color:#333333;">A. Sifat Pakaian yang Disyariatkan bagi Wanita Muslimah<br />
<span id="more-52"></span><br />
1. Diwajibkan pakaian wanita muslimah itu menutupi seluruh badannya dari (pandangan) laki-laki yang bukan mahramnya. Dan janganlah terbuka untuk mahram-mahramnya kecuali yang telah terbiasa terbuka seperti wajah, kedua telapak tangan dan kedua kakinya.</p>
<p>2. Agar pakaian itu menutupi apa yang ada di sebaliknya (yakni tubuhnya), janganlah terlalu tipis (transparan), sehingga dapat terlihat bentuk tubuhnya.</p>
<p>3.Tidaklah pakaian itu sempit yang mempertontonkan bentuk anggota badannya, sebagaimana disebutkan dalam kitab Shahih Muslim dari Nabi Shalallahu’alaihi Wassallam bahwasanya beliau bersabda:<br />
&#8220;Dua kelompok dari penduduk neraka yang aku belum melihatnya, (kelompok pertama) yaitu wanita yang berpakaian (pada hakekatnya) ia telanjang, merayu-¬rayu dan menggoda, kepala mereka seperti punuk onta (melenggak-lenggok, membesarkan konde), mereka tidak masuk surga dan tidak mendapatkan baunya. Dan (kelompok kedua) yaitu laki-laki yang bersamanya cemeti seperti ekor sapi yang dengannya manusia saling rnemukul-mukul sesama hamba Allah. &#8220;(HR. Muslim)</p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah berkata di dalam Majmu&#8217; Al-Fatawa (22/146) dalam menafsirkan sabda Nabi Shalallahu’alaihi Wassallam:<br />
&#8220;Bahwa perempuan itu memakai pakaian yang tidak menutupinya. Dia berpakaian tapi sebenarnya telanjang. Seperti wanita yang memakai pakaian yang tipis sehingga menggambarkan postur tubuh (kewanitaan)-nya atau pakaian yang sempit yang memperlihatkan lekuk tubuhnya, seperti pinggul, lengan dan yang sejenisnya. Akan tetapi, pakaian wanita ialah apa yang menutupi tubuhnya, tidak memperlihatkan bentuk tubuh, serta kerangka anggota badannya karena bentuknya yang tebal dan lebar.&#8221;</p>
<p>4.Pakaian wanita itu tidak menyerupai pakaian laki-laki.<br />
Rasulullah Shalallahu’alaihi Wassallam telah melaknat wanita-wanita yang menyerupai laki-laki dan laki-laki yang menyerupai wanita. Sedangkan untuk membedakan wanita dengan laki-laki dalam hal berpakaian adalah pakaian yang dipakai dinilai dari karakter bentuk dan sifat menurut ketentuan adat istiadat setiap masyarakat.</p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah berkata di dalam Majmu&#8217;Al-Fatawa (22/148-149/155):<br />
&#8220;Maka (hal) yang membedakan antara pakaian laki-¬laki dan pakaian perempuan dikembalikan pada pakaian yang sesuai bagi laki-laki dan perempuan, yaitu pakaian yang cocok sesuai dengan apa yang diperintahkan untuk lak-¬laki dan perempuan. Para wanita diperintahkan untuk menutup dan menghalangi tanpa ada rasa tabarruj (mempertontonkan) dan memperlihatkan. Untuk itu tidak dianjurkan bagi wanita mengangkat suara di dalam adzan, ¬(membaca) talbiyah, (berdzikir ketika) naik ke bukit Shafa dan Marwa dan tidaklah telanjang di dalam Ihram seperti ¬laki-laki. Karena laki-laki diperintahkan untuk membuka kepalanya dan tidak memakai pakaian yang melampaui batas (dilarang) yakni yang dibuat sesuai anggota badannya, tidak memakai baju, celana panjang dan kaos kaki.&#8221;</p>
<p>Selanjutnya Syaikhul Islam mengatakan:<br />
&#8220;Dan adapun wanita, sesungguhnya tidak dilarang sesuatupun dari pakaian karena ia diperintahkan untuk menutupi dan menghijabi (membalut) dan tidak dianjurkan kebalikannya. Akan tetapi dilarang memakai kerudung ¬dan memakai sarung tangan, karena keduanya merupakan_ pakaian yang terbuat sesuai dengan bentuk tubuh dan tidak ada kebutuhan bagi wanita padanya.&#8221; Kemudian beliau menyebutkan, bahwa wanita itu menutup wajahnya tanpa keduanya dari laki-laki sampai beliau mengatakan di akhir: &#8220;Maka jelas, antara pakaian laki-laki dan perempuan itu sudah seharusnya berbeda. Yakni untuk membedakan laki-laki dari wanita. Pakaian wanita itu haruslah istitar (menutupi auratnya) dan istijab (menghalangi dari pandangan yang bukan mahramnya -pent.). Sebagaimana yang dimaksud dhahir &#8221; dari bab ini.&#8221;(11)</p>
<p>Kemudian beliau menjelaskan, bahwa apabila pakaian itu lebih pantas dipakai oleh laki-laki sebagaimana umumnya, maka dilarang bagi wanita. Hingga beliau mengatakan: &#8220;Manakala pakaian itu bersifat qillatul istitar (hanya sekedar menutupi aurat -pent.) dan musyabahah (pakaian itu layak dipakai oleh laki-laki dan perempuan &#8211; pent.), maka dilarang pemakaiannya dari dua bentuk (baik laki-laki maupun perempuan -pent.). Allahu a&#8217;lam. &#8220;</p>
<p>5.Pakaian wanita tidaklah terhiasi oleh perhiasan yang menarik perhatian (orang lain) ketika keluar rumah, agar tidak termasuk golongan wanita-wanita yang bertabaruj (mempertontonkan) pada perhiasan.</p>
<p>Berhijab</p>
<p>Bahwa seorang wanita yang menutupi badannya dari (pandangan) laki-laki yang bukan mahramnya disebut berhijab.<br />
Sebagaimana firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:<br />
&#8220;Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, putra-putra saudara perempuan mereka. &#8221; (An-Nur: 31)</p>
<p>Dalam firman-Nya yang lain:<br />
&#8220;Dan apabila kamu ada sesuatu (keperluan) kepada mereka (istri-istri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir (hijab). &#8221; (Al-Ahzab: 53)</p>
<p>Dan yang dimaksud dengan hijab (dari ayat di atas) adalah sesuatu yang menutupi wanita termasuk di dalamnya dinding, pintu atau pakaian.<br />
Sedangkan kata-kata dalam ayat tersebut walaupun diperuntukkan kepada istri-istri Nabi Shalallahu’alaihi Wassallam, namun hukumnya adalah umum untuk semua wanita mukminah.</p>
<p>Karena `illat (landasan)-nya adalah berkaitan dengan firman ¬Allah Subhanahu Wa Ta’ala:<br />
&#8220;Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka. &#8221; (Al-Ahzab: 53)</p>
<p>Dan `illat (landasan) ini adalah umum. Maka keumuman `illat menunjukkan bahwa hukum tersebut berlaku untuk umum. Dan firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala<br />
yang lain:<br />
&#8220;Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: &#8220;Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka &#8220;. (Al-Ahzab: 59)</p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah berkata di dalam majmu&#8217;Al-Fatawa (22/110-111):<br />
&#8220;Jilbab adalah kain penutup, sebagaimana Ibnu Mas&#8217;ud dan yang lainnya menamakan dengan sebutan rida’ (cadar) dan izar (sarung) sebagaimana umum menyebutnya, yakni kain sarung yang besar sebagai penutup kepala dan seluruh badan wanita. Diriwayatkan dari Abu Ubaidah dan yang lainnya, bahwa wanita itu mengulurkan jilbab dari atas kepalanya sampai tidak terlihat (raut mukanya), kecuali matanya. Termasuk sejenis hijab adalah niqab (sarung kepala). Dan dalil-dalil sunnah nabawiyyah<br />
tentang kewajiban seorang wanita menutupi wajah dari selain mahramnya.&#8221;(12)</p>
<p>Dan dalil-dalil tentang kewajiban wanita untuk menutup wajah dari selain mahramnya menurut Al-Qur`an dan As Sunnah sangatlah banyak. Maka saya sarankan kepada anda wahai muslimah, (bacalah -pent.) mengenai hal tersebut di dalam Risalah Hijab dan Pakaian di dalam Shalat karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Risalah Hijab karya Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, Risalatu Ash-Sharim Al Masyhur `ala Al-Maftunin bi As-Sufur karya Syaikh Hamud bin Abdullah At-Tuwaijiri dan Risalah Hijab karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-&#8217;Utsaimin. Semua risalah tersebut telah menjabarkan tentang permasalahan hijab beserta hal-hal yang berkaitan dengannya.</p>
<p>Ketahuilah wahai muslimah!<br />
Bahwa ulama-ulama yang membolehkan kamu membuka wajahmu dengan kata-kata yang menggiurkan (rayuan-rayuai gombal) sepertinya dapat menghindarkanmu dari fitnah. Padaha fitnah tidaklah dapat dihindari, khususnya pada zaman sekarang ini. Dimana sedikit sekali laki-laki dan perempuan yang menyerukan larangan agama. Sedikit sekali rasa malunya. Bahkan banyak sekali orang-orang yang mengumbar fitnah. Kemudian sangatlah terhina wanita yang menjadikan macam-macam perhiasan yang mengundang fitnah berada di wajahnya. Berhati-hatilah dari hal itu.</p>
<p>Wahai muslimah! Pakailah dan biasakanlah berhijab. Karena hijab dapat menjagamu dari fitnah dengan seizin Allah. Tidak ada seorang ulama -baik dahulu maupun sekarang- yang menyetujui (pendapat) para pengumbar fitnah. Dimana mereka (para wanita) terlibat di dalamnya.</p>
<p>Sebagian wanita muslimah ada yang berpura-pura dalam berhijab. Yakni manakala berada dalam masyarakat yang menerapkan hijab, merekapun memakainya. Dan ketika berada dalam masyarakat yang tidak menerapkan hijab, merekapun melepaskan hijabnya.</p>
<p>Sementara ada sebagian lainnya yang memakai hijab hanya ketika berada di tempat-tempat umum dan ketika memasuki tempat pemiagaan, rumah sakit, tempat pembuat perhiasan emas ataupun salah satu dari penjahit pakaian wanita, maka ia pun membuka wajah dan kedua lengannya, seakan-akan ia berada di samping suaminya atau salah satu mahramnya! Maka takutlah kamu kepada Allah, hai orang-orang yang melakukan hal tersebut!</p>
<p>Telah kami saksikan pula, beberapa wanita yang berada di dalam pesawat (yakni pesawat yang datang dari luar Arab Saudi), rnereka tidak memakai hijab, kecuali ketika pesawat mendarat di salah satu bandara di negara ini. Seolah-olah hijab itu berasal dari adat kebiasaan (bangsa Arab) dan bukan dari pokok-pokok ajaran agama.</p>
<p>Wahai muslimah!</p>
<p>Sesungguhnya hijab menjagamu dari pandangan yang beracun. Pandangan yang berasal dari penyakit hati dan penyakit kemanusiaan. Hijab memutuskan darimu ketamakan yang berapi-api.<br />
Maka pakailah hijab. Berpeganglah pada hijab. Dan janganlah kamu tergoda oleh pengumbar fitnah yang bertujuan memerangi hijab atau mengecilkan dari bentuknya. Sebab ia ingin menjadikanmu jahat. Sebagaimana firman Allah:<br />
Sedang orang-orang yang mengikuti hawa nafsunya bermaksud supaya kamu berpaling sejauh jauhnya (dari kebenaran). &#8221; (An-Nisaa&#8217;: 27)</p>
<p>Dikutip dari Tanbihat ‘ala Ahkam Takhtashshu bil Mu’minat, Edisi Indonesia “Panduan Fiqih Praktis Bagi Wanita” Penerbit Pustaka Sumayyah, Pekalongan.</p>
<p>Footnote:<br />
11. Jawabannya telah dijelaskan pada bab sebelumnya.<br />
12. Barangkali yang dimaksud adalah hadits dari Aisyah Radhiyallahu ‘anha, dia berkata:<br />
“Ada beberapa pengendara (kendaraan) lewat di depan kami dan saat itu kami sedang ihram bersama Rasulullah Shalallahu’alaihi Wassallam. Jika mereka sejajar dengan kami, maka kami mengulurkan jilbab ke wajah kami, dan bila mereka telah berlalu, maka kami membukanya kembali.&#8221; (HR. Ahmad, Abu Dawud dan Ibnu Majah)<br />
Lihat kitab Mas&#8217;uliyatul Mar&#8217;ati Al-Muslimati, bab Hijab wa Shufur oleh Syaikh Abdullah bin Jarullah bin Ibrahim AI-Jarullah -pent.</span></p>
<p>http://darussalaf.or.id/stories.php?id=252</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/assunnahindonesia.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/assunnahindonesia.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/assunnahindonesia.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/assunnahindonesia.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/assunnahindonesia.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/assunnahindonesia.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/assunnahindonesia.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/assunnahindonesia.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/assunnahindonesia.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/assunnahindonesia.wordpress.com/52/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=assunnahindonesia.wordpress.com&blog=8506513&post=52&subd=assunnahindonesia&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://assunnahindonesia.wordpress.com/2009/07/24/tuntunan-berpakaian-dan-berhijab/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f495a24dbd70dd1bb48151a098184ae7?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Kajian Islam Assunnah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Jaring-jaring Setan itu Bernama Ghuluw</title>
		<link>http://assunnahindonesia.wordpress.com/2009/07/23/jaring-jaring-setan-itu-bernama-ghuluw/</link>
		<comments>http://assunnahindonesia.wordpress.com/2009/07/23/jaring-jaring-setan-itu-bernama-ghuluw/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 23 Jul 2009 12:27:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Kajian Islam Assunnah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[ghuluw]]></category>
		<category><![CDATA[extrim]]></category>
		<category><![CDATA[khawarij]]></category>
		<category><![CDATA[syiah]]></category>
		<category><![CDATA[ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[jadwal kajian]]></category>
		<category><![CDATA[ngaji]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://assunnahindonesia.wordpress.com/2009/07/23/jaring-jaring-setan-itu-bernama-ghuluw/</guid>
		<description><![CDATA[Setan tak hanya menyerang orang-orang yang bergelimang maksiat, namun juga menjerat hamba-hamba-Nya yang gemar beribadah. Sesungguhnya setan menggunakan dua cara untuk menyesatkan umat Islam. Cara pertama digunakan untuk mengelabui seorang muslim yang bergelimang maksiat. Yaitu dengan menjadikan maksiat yang ia lakukan seakan-akan sesuatu yang indah. Sehingga ia tetap akan jauh dari ketaatan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=assunnahindonesia.wordpress.com&blog=8506513&post=49&subd=assunnahindonesia&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Setan tak hanya menyerang orang-orang yang bergelimang maksiat, namun juga menjerat hamba-hamba-Nya yang gemar beribadah.<span id="more-49"></span> Sesungguhnya setan menggunakan dua cara untuk menyesatkan umat Islam. Cara pertama digunakan untuk mengelabui seorang muslim yang bergelimang maksiat. Yaitu dengan menjadikan maksiat yang ia lakukan seakan-akan sesuatu yang indah. Sehingga ia tetap akan jauh dari ketaatan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: حُفَّتِ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ وَحُفَّتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ “Al-Jannah dikelilingi oleh segala hal yang tidak disukai, sementara An-Naar itu diliputi dengan syahwat.” (HR. Al-Bukhari no. 6487 dan Muslim no. 2822) Adapun cara kedua digunakan oleh setan untuk menyesatkan seorang muslim yang gemar beribadah. Yaitu dengan mengajaknya berlaku ghuluw (melampaui batas) di dalam beribadah. Sehingga justru agamanya akan rusak. Oleh karena itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala melarang untuk bersikap ghuluw. (Muqaddimah Asy-Syaikh Al-Abbad, kitab Bi Ayyi ‘Aqlin wa Dinin) Al-Imam Makhlad bin Al-Husain rahimahullahu pernah berkata, “Tidaklah Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk berbuat kebaikan melainkan Iblis akan menghadangnya dengan dua cara. Iblis tidak ambil peduli dengan cara apa dia akan menguasainya. Antara bersikap ghuluw di dalam amalan tersebut ataukah sikap meremehkannya.” (Siyar A’lam An-Nubala’, 9/236)  Definisi Al-Ghuluw Al-Ghuluw secara bahasa bermakna melebihi batasan. Berasal dari kata غَلَا فِي الْأَمْرِ –يَغْلُو-غُلُوًّا. Hal ini sebagaimana dijabarkan oleh Al-Jauhari dalam Ash-Shihah, Ibnu Faris di dalam Al-Mu’jam, Ibnu Manzhur di dalam Al-Lisan, dan Az-Zabidi di dalam Tajul ‘Arus. Di dalam penggunaannya, seluruh lafadz “ghuluw” selalu bermakna melebihi ukuran dan batasan. Sebagai contoh adalah hadits Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu dalam riwayat Al-Bukhari (no. 2518). Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang budak yang terbaik untuk dibebaskan, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: أَغْلاَهَا ثَمَنًا، وَأَنْفعُهَا عِنْدَ أَهْلِهَا “Budak yang paling tinggi harganya dan terbanyak manfaatnya bagi sang majikan.” Kalimat غلَاءُ الثَّمَنِ artinya harganya naik dan melebihi batas kebiasaan. Demikian pula, sebagai contoh lain, hadits An-Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhu di mana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: إِنَّ أَهْوَنَ أَهْلِ النَّارِ عَذَابًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ رَجُلٌ عَلَى أَخْمَصِ قَدَمَيْهِ جَمْرَتَانِ يَغْلِي مِنْهُمَا دِمَاغُهُ، كَمَا يَغْلِي الْمِرْجَلُ “Sesungguhnya penghuni neraka yang paling ringan azabnya adalah seseorang yang dipasangkan dua bara api pada telapak kakinya kemudian otaknya mendidih sebagaimana periuk itu mendidih.” (HR. Al-Bukhari no. 6561 dan Muslim no. 213)  Kalimat غلَاءُ الْمِرْجَلِ artinya periuk yang bertambah panasnya dan naik panasnya dari kebiasaan. Syaikhul Islam rahimahullahu mendefinisikan ghuluw dengan menyatakan, “Melebihi dari batas, yaitu dengan menambahkan pujian atau celaan dari hak yang seharusnya, dan yang semisal itu.” (Iqtidha’ush Shirath, 1/328) Adapun di dalam syariat, ghuluw bermakna melebihi batasan yang telah ditetapkan oleh syariat. (Al-Ghuluw, Ali Al-Haddadi, hal. 13)  Haramnya Ghuluw Dienul Islam adalah ajaran yang diturunkan dari sisi Sang Khaliq, yang telah menciptakan langit dan bumi berikut segenap isinya. Sehingga, Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah Dzat Yang Maha Mengetahui sebatas mana kemampuan dan kekuatan manusia. Oleh karenanya, Allah Subhanahu wa Ta’ala menetapkan syariat yang sesuai dengan kemampuan mereka. Dienul Islam datang membawa kemudahan bagi pengikutnya, ajaran yang tidak menghendaki adanya keberatan dan kesusahan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: لاَ يُكَلِّفُ اللهُ نَفْسًا إِلاَّ وُسْعَهَا “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (Al-Baqarah: 286) Maka dari itu, sikap ghuluw dan berlebih-lebihan adalah kesesatan serta jauh dari tujuan-tujuan suci. Berikut ini beberapa dalil tentang haram dan tercelanya sikap ghuluw. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: يَاأَهْلَ الْكِتَابِ لاَ تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ وَلاَ تَقُولُوا عَلَى اللهِ إِلاَّ الْحَقَّ “Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar.” (An-Nisa’: 171) قُلْ يَاأَهْلَ الْكِتَابِ لاَ تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ غَيْرَ الْحَقِّ وَلاَ تَتَّبِعُوا أَهْوَاءَ قَوْمٍ قَدْ ضَلُّوا مِنْ قَبْلُ وَأَضَلُّوا كَثِيرًا وَضَلُّوا عَنْ سَوَاءِ السَّبِيلِ Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus.” (Al-Ma’idah: 77) Di dalam dua ayat ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala melarang ahlul kitab dari sikap ghuluw di dalam beragama. Sementara setiap pembicaraan yang ditujukan kepada ahlul kitab di dalam Al-Qur’an dalam bentuk perintah atau larangan juga ditujukan kepada umat Islam. Karena merekalah yang diajak berbicara di dalam Al-Qur’an. Apabila Allah Subhanahu wa Ta’ala melarang ahlul kitab dari sikap ghuluw, maka umat Islam lebih pantas untuk dilarang. (Al-Ghuluw, ‘Ali bin Yahya, hal. 15) Di dalam Al-Qur’an juga dengan tegas melarang kita dari sikap melampaui batas. Sementara melampaui batas yang telah diterangkan oleh syar’i merupakan hakikat ghuluw. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لاَ تُحَرِّمُوا طَيِّبَاتِ مَا أَحَلَّ اللهُ لَكُمْ وَلاَ تَعْتَدُوا إِنَّ اللهَ لاَ يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (Al-Maidah: 87) Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman kepada Nabi-Nya berikut para pengikut beliau: فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ وَلاَ تَطْغَوْا “Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah bertaubat beserta kamu, dan janganlah kamu melampaui batas.” (Hud: 112) Adapun hadits-hadits yang menjelaskan tentang haramnya ghuluw sangat banyak. Di antaranya adalah sebuah hadits dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: هَلَكَ الْمُتَنَطِّعُونَ -قَالَهَا ثَلاَثًا “Benar-benar binasa orang-orang yang bersikap tanaththu’.” Beliau mengulangi pernyataan ini sebanyak tiga kali.” (HR. Muslim no. 2670) Al-Imam An-Nawawi rahimahullahu di dalam Syarah Muslim menjelaskan, “Yang dimaksud orang-orang yang bersikap tanaththu’ adalah mereka yang berlebih-lebihan, bersikap ghuluw, dan melampaui batas dari yang telah ditentukan. Baik di dalam ucapan ataupun perbuatan.” Seseorang yang bersikap tanaththu’ akan mengalami kehancuran. Ia akan merugi. Karena sikap tersebut akan mendorongnya untuk terjatuh dalam dosa kesombongan dan ujub (bangga diri). Ia melihat dirinya telah banyak melakukan amalan shalih. Setan menipunya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang penipuan setan ini: أَفَمَنْ زُيِّنَ لَهُ سُوءُ عَمَلِهِ فَرَآهُ حَسَنًا فَإِنَّ اللهَ يُضِلُّ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ “Maka apakah orang yang dijadikan (syaithan) menganggap baik pekerjaannya yang buruk lalu ia meyakini pekerjaan itu baik, (sama dengan dengan orang yang tidak ditipu syaitan) maka sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya.” (Fathir: <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_cool.gif' alt='8)' class='wp-smiley' /> كَذَلِكَ زُيِّنَ لِلْمُسْرِفِينَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ “Begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan.” (Yunus: 12) Seharusnya seorang muslim takut bila termasuk golongan yang tidak mendapatkan syafa’at dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di hari kiamat karena perbuatan ghuluw. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda di dalam hadits Abi Umamah radhiyallahu ‘anhu: صِنْفَانِ مِنْ أُمَّتِي لَنْ تَنَالَهُمَا شَفَاعَتِي: إِمَامٌ ظَلُومٌ غَشُوم ٌ، وَكُلُ غَالٍ مَارِقٍ “Ada dua golongan dari umatku yang tidak akan memperoleh syafa’at dariku. Yaitu seorang pemimpin yang selalu berbuat zalim dan setiap orang yang berlaku ghuluw, keluar dari jalan kebenaran.” (HR. Ath-Thabarani, dihasankan oleh Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu di dalam Ash-Shahihah) Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengingatkan kita tentang bahaya ghuluw dengan memberat-beratkan diri di dalam beribadah. Karena sesungguhnya dienul Islam ini adalah ajaran yang mudah untuk diamalkan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: إِنَّ الدِّيْنَ يُسْرٌ وَلَنْ يُشَادَّ الدِّينَ أَحَدٌ إِلاَّ غَلَبَهُ “Sesungguhnya agama Islam ini mudah. Tidak ada seorang pun yang memberat-beratkan dirinya dalam beragama melainkan dia tidak mampu menjalankannya.” (HR. Al-Bukhari no. 39 dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu) Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullahu menerangkan bahwa makna hadits ini ialah larangan bagi seseorang yang hendak memberatkan diri dalam amalan din, serta dia meninggalkan kelembutan karena dia tidak akan mampu untuk meneruskan amalan tersebut, berhenti dari ibadah dan pada akhirnya dia akan mengalami kekalahan. (Fathul Bari, ketika mensyarah hadits diatas) Al-Imam Ibnu Al-Munayyir rahimahullahu berkata, “Di dalam hadits ini juga terdapat salah satu tanda-tanda kenabian. Sungguh kami sendiri telah menyaksikan sebagaimana orang-orang sebelum kami juga telah menyaksikan. Bahwa setiap orang yang berlebih-lebihan di dalam beragama pasti akan berhenti. Hal ini bukan bermakna larangan untuk mencari kesempurnaan di dalam ibadah, karena perkara seperti ini sangat terpuji. Hanya saja yang dilarang adalah sikap berlebih-lebihan yang akan mengantarkan pelakunya kepada kejenuhan. Demikian juga bila sikap tersebut mengakibatkan dia meninggalkan perkara yang lebih afdhal atau yang berakibat pelaksanaan sesuatu yang wajib bukan pada waktunya. Seperti seseorang yang semalam suntuk shalat malam. Dia akan merasakan kantuk yang sangat berat di pengujung malam. Akhirnya dia tidak dapat melaksanakan shalat shubuh secara berjamaah.” (Fathul Baari) Sebagai bentuk cinta dan kasih sayang, dalam setiap kesempatan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa membimbing umat untuk menjauhi sikap ghuluw. Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan: إِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ فِي الدِّينِ فَإِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ بِالْغُلُوِّ فِي الدِّيْنِ “Waspadalah dan berhati-hatilah kalian dari sikap ghuluw dalam beragama. Karena sesungguhnya kehancuran umat-umat sebelum kalian disebabkan ghuluw yang mereka perbuat di dalam beragama.” (HR. Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, Al-Hakim dan Adh-Dhiya’. Hadits ini ditakhrij dalam Ash-Shahihah no. 1238) Larangan ghuluw ini sebenarnya dipicu sebuah kejadian di pagi hari Aqabah. Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengisahkan bahwa beliau diminta oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang ketika itu sedang berada di atas kendaraannya, untuk memungut kerikil-kerikil. Setelah Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma menyerahkan kerikil-kerikil yang akan digunakan untuk melempar jumrah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun meletakkannya di tangan lalu bersabda: “Hendaknya dengan kerikil-kerikil semacam inilah. Waspadalah dan berhati-hatilah kalian dari sikap ghuluw dalam beragama. Karena sesungguhnya kehancuran umat-umat sebelum kalian disebabkan ghuluw yang mereka perbuat di dalam beragama.” Walaupun larangan ini dinyatakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam karena disebabkan sebuah peristiwa secara khusus, namun hukum ini berlaku secara umum. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu ketika membicarakan hadits di atas berkata, “(Larangan ini) bersifat umum, mencakup seluruh jenis ghuluw. Di dalam perkara keyakinan maupun amalan.” Saudaraku&#8230; sikap ghuluw adalah sikap tercela sebagai warisan dari ahlul kitab. Kita dilarang untuk meniru mereka. Dari Sahl bin Hunaif radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: لاَ تُشَدِّدُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ فَإِنَّمَا هَلَكَ مَنْ قَبْلَكُمْ بِتَشْدِيدِهِمْ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَسَتَجِدُونَ بَقَايَاهُمْ فِي الصَّوَامِعِ وَالدِّيَارَاتِ “Janganlah kalian memberat-beratkan diri kalian. Karena sesungguhnya kehancuran orang-orang sebelum kalian hanyalah disebabkan mereka memberat-beratkan diri. Dan kalian akan menemukan sisa-sisa mereka di dalam pertapaan dan biara.” (HR. Al-Imam Al-Bukhari di dalam At-Tarikh. Lihat As-Silsilah Ash-Shahihah, 3124) Di dalam perkara yang dianggap biasa sekalipun, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan agar kita menjauhi sikap berlebihan. Perkara memuji seseorang adalah satu hal yang biasa dilakukan. Namun apabila pujian tersebut disampaikan secara berlebihan justru akan menyeret pada dampak yang berbahaya. Orang yang dipuji secara berlebih tentu akan merasa ujub dan sombong. Al-Imam An-Nawawi rahimahullahu meletakkan sebuah bab di dalam Shahih Muslim, Bab Larangan Memuji, apabila berlebihan dan dikhawatirkan menimbulkan fitnah (ujian) bagi orang yang dipuji. Dari Abu Musa Al-’Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mendengar seseorang memuji orang lain dan berlebihan di dalam memuji. Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda: لَقَدْ أَهْلَكْتُمْ -أَوْ قَطَعْتُمْ- ظَهْرَ الرَّجُلِ “Sungguh kalian telah mencelakakan orang tersebut.” Bahkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membimbing kita untuk menaburkan pasir ke wajah orang yang senang berlebihan di dalam memuji sebagaimana dikabarkan oleh Al-Miqdad bin Al-Aswad radhiyallahu ‘anhu. Secara khusus lagi, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kita dari sikap berlebih-lebihan di dalam memuji beliau. Karena kekhawatiran beliau bahwa umat Islam akan jatuh pada kesalahan yang dilakukan orang-orang Nasrani. Al-Imam Al-Bukhari rahimahullahu meriwayatkan sebuah hadits dari Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: لاَ تُطْرُونِي كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ، إِنَّمَا أَنَا عَبْدٌ فَقُولُوا: عَبْدُ اللهِ وَرَسُولُهُ “Janganlah kalian berlebih-lebihan di dalam memuji diriku sebagaimana orang-orang Nashara berlebih-lebihan di dalam memuji Ibnu Maryam. Aku hanyalah seorang hamba, maka katakanlah: ‘Hamba Allah dan Rasul-Nya’.” Betapa besar perhatian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada umat Islam. Beliau benar-benar sayang dan mencintai pengikutnya. Semua telah ditunjukkan sepanjang hidup beliau. Di antara sekian banyak buktinya adalah pengingkaran Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap seorang sahabat yang bernadzar untuk melakukan sesuatu yang berat. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, di saat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan khutbah, beliau melihat seseorang sedang berdiri di bawah terik matahari. Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya tentang orang tersebut. Para sahabat menjawab, “Dia adalah Abu Israil. Dia bernadzar untuk berdiri di bawah terik matahari dan tidak akan duduk, juga tidak ingin berteduh atau berbicara dalam keadaan dia berpuasa.” Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: مُرْهُ فَلْيَتَكَلَّمْ وَلْيَسْتَظِلَّ وَلْيَقْعُدْ وَلْيُتِمَّ صَوْمَهُ “Perintahkan dia untuk berbicara, juga berteduh dan duduk, lalu menyempurnakan puasanya.” (HR. Al-Bukhari) Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullahu berkata, “Nadzar yang diucapkan sahabat ini mengandung perkara yang dicintai Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan ada pula yang tidak dicintai-Nya. Adapun yang dicintai Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah puasa. Karena puasa bagian dari ibadah. Sementara Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: ‘Barangsiapa yang bernadzar di dalam ketaatan kepada Allah hendaknya ia tunaikan nadzarnya dengan menaatinya.’ Adapun perbuatan sahabat itu yang berdiri di bawah terik matahari tanpa berteduh. Demikian juga sikapnya yang tidak mau berbicara. Hal ini tidaklah dicintai Allah Subhanahu wa Ta’ala. Oleh sebab itu, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan sahabat tersebut untuk meninggalkan nadzarnya.” (Syarah Riyadhus Shalihin) Kesimpulannya, kebaikan yang hendak kita kejar haruslah dengan pertimbangan Al-Qur’an dan As-Sunnah disertai pemahaman salaful ummah. Tidak setiap amalan yang kita anggap baik benar-benar sebuah kebaikan, kecuali dengan dilandaskan oleh dalil. Wallahu a’lam. http://www.asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&amp;id_online=782</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/assunnahindonesia.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/assunnahindonesia.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/assunnahindonesia.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/assunnahindonesia.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/assunnahindonesia.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/assunnahindonesia.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/assunnahindonesia.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/assunnahindonesia.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/assunnahindonesia.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/assunnahindonesia.wordpress.com/49/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=assunnahindonesia.wordpress.com&blog=8506513&post=49&subd=assunnahindonesia&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://assunnahindonesia.wordpress.com/2009/07/23/jaring-jaring-setan-itu-bernama-ghuluw/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f495a24dbd70dd1bb48151a098184ae7?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Kajian Islam Assunnah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ucapan : Jazaakallohu Khoir</title>
		<link>http://assunnahindonesia.wordpress.com/2009/07/21/ucapan-jazaakallohu-khoir/</link>
		<comments>http://assunnahindonesia.wordpress.com/2009/07/21/ucapan-jazaakallohu-khoir/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 21 Jul 2009 01:05:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Kajian Islam Assunnah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fatwa Ulama Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqih]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://assunnahindonesia.wordpress.com/?p=47</guid>
		<description><![CDATA[Ini adalah beberapa fatwa yang bermanfaat dari Al-Allamah Asy-Syaikh Al-Muhaddits Abdul Muhsin Al-Abbad hafizhahullah Ta’ala,menjawab beberapa pertanyaan setelah Beliau menjelaskan hadits Usamah bin Zaid radhiallahu anhu bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda:
]من صُنِعَ إليه مَعْرُوفٌ فقال لِفَاعِلِهِ جَزَاكَ الله خَيْرًا فَقَدْ أَبْلَغَ في الثَّنَاءِ
“Barangsiapa yang diberikan satu perbuatan kebaikan kepadanya lalu dia membalasnya dengan mengatakan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=assunnahindonesia.wordpress.com&blog=8506513&post=47&subd=assunnahindonesia&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><span style="font-family:Tahoma,Verdana,Arial,sans-serif;color:#333333;">Ini adalah beberapa fatwa yang bermanfaat dari Al-Allamah Asy-Syaikh Al-Muhaddits Abdul Muhsin Al-Abbad hafizhahullah Ta’ala,menjawab beberapa pertanyaan setelah Beliau menjelaskan hadits Usamah bin Zaid radhiallahu anhu bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda:<span id="more-47"></span></span></p>
<p>]من صُنِعَ إليه مَعْرُوفٌ فقال لِفَاعِلِهِ جَزَاكَ الله خَيْرًا فَقَدْ أَبْلَغَ في الثَّنَاءِ</p>
<p>“Barangsiapa yang diberikan satu perbuatan kebaikan kepadanya lalu dia membalasnya dengan mengatakan : jazaakallahu khaer (semoga Allah membalasmu dengan kebaikan), maka sungguh hal itu telah mencukupi dalam menyatakan rasa syukurnya.”</p>
<p>(HR.At-Tirmidzi (2035), An-Nasaai dalam Al-kubra (6/53), Al-Maqdisi dalam Al-mukhtarah: 4/1321, Ibnu Hibban: 3413, Al-Bazzar dalam musnadnya:7/54. Hadits ini dishahihkan Al-Albani dalam shahih Tirmidzi)</p>
<p>Berikut ini fatwa Al-Allamah Abdul Muhsin hafizhahullah, semoga bermanfaat.<br />
Pertanyaan 1:<br />
sebagian ikhwan ada yang menambah pada ucapannya dengan mengatakan &#8220;jazakallah khaeran wa zawwajaka bikran&#8221; (semoga Allah membalasmu dengan kebaikan dan menikahkanmu dengan seorang perawan),dan yang semisalnya. Bukankah tambahan ini merupakan penambahan dari sabda Rasul shallallahu alaihi wasallam ,dimana beliau mengatakan &#8220;sungguh dia telah mencukupi dalam menyatakan rasa syukurnya.?</p>
<p>Beliau menjawab:<br />
Tidak perlu (penambahan) doa seperti ini,sebab boleh jadi (orang yang didoakan) tidak menginginkan do&#8217;a yang disebut ini.Boleh jadi orang yang dido&#8217;akan dengan do&#8217;a ini tidak menghendakinya.Seseorang mendoakan kebaikan,dan setiap kebaikan sudah mencakup dalam keumuman doa ini.Namun jika seseorang menyebutkan do&#8217;a ini,bukan berarti bahwa Rasulullah r melarang untuk menambah dari do&#8217;a tersebut.Namun beliau hanya mengabarkan bahwa ucapan ini telah mencukupi dalam menyatakan rasa syukurnya. Namun seandainya jia dia mendoakan dan berkata: “jazakallahu khaer wabarakallahu fiik wa ‘awwadhaka khaeran” (semoga Allah membalas kebaikanmu dan senantiasa memberkahimu dan menggantimu dengan kebaikan pula” maka hal ini tidak mengapa.Sebab Rasul Shallallahu alaihi wasallam tidak melarang adanya tambahan do’a.Namun tambahan do’a yang mungkin saja tidak pada tempatnya,boleh jadi yang dido’akan dengan do’a tersebut tidak menghendaki apa yang disebut dalam do’a itu.</p>
<p>Pertanyaan 2:<br />
Ada sebagian orang berkata:ada sebagian pula yang menambah tatkala berdo’a dengan mengatakan : jazaakallahu alfa khaer” (semoga Allah membalasmu dengan seribu kebaikan” ?<br />
Beliau -hafidzahullah- menjawab:<br />
“Demi Allah ,kebaikan itu tidak ada batasnya,sedangkan kata seribu itu terbatas,sementara kebaikan tidak ada batasnya.Ini seperti ungkapan sebagian orang “beribu-ribu terima kasih”,seperti ungkapan mereka ini.Namun ungkapan yang disebutkan dalam hadits ini bersifat umum.”<br />
Pertanyaan: apakah ada dalil bahwa ketika membalasnya dengan mengucapkan “wa iyyakum” (dan kepadamu juga) ?</p>
<p>Beliau menjawab:<br />
“tidak, sepantasnya dia juga mengatakan “jazakallahu khaer” (semoga Allah membalasmu kebaikan pula), yaitu didoakan sebagaimana dia berdo’a, meskipun perkataan seperti “wa iyyakum” sebagai athaf (mengikuti) ucapan “jazaakum”, yaitu ucapan “wa iyyakum” bermakna “sebagaimana kami mendapat kebaikan,juga kalian” ,namun jika dia mengatakan “jazaakalallahu khaer” dan menyebut do’a tersebut secara nash,tidak diragukan lagi bahwa hal ini lebih utama dan lebih afdhal.”<br />
(transkrip dari kaset: durus syarah sunan At-Tirmidzi,oleh Al-Allamah Abdul Muhsin Al-Abbad hafidzahullah,kitab Al-Birr wa Ash-Shilah,nomor hadits:222).<br />
(Diterjemahkan oleh Abu Karimah Askari bin Jamal)</p>
<p>Berikut ini transkrip dalam bahasa Arab:</p>
<p>يقول السائل : بعض الإخوة يتطرق فيزيد على (جزاك الله خيرا وزوجك بكرا) ونحو ذلك.أليس في هذا استدراك على قول النبي صلى الله عليه وسلم فإنه يقول ((فقد أبلغ في الثناء))<br />
فأجاب :ولا حاجة بهذا الدعاء قد يكون ما يريد هذا الشيء الذي دعي به ,أي نعم قد يكون الإنسان الذي دعي بهذا أنه لا يريده .فالإنسان يدعو بالخير وكل خير يدخل تحت هذا العموم .فالإنسان يأتي بهذا الدعاء وليس معنى ذلك أن الرسول × نهى عن ذلك يعني لا يزيد على هذا وإنما أخبر أن هذا فيه إبلاغ بالثناء ,لكنه لو دعا له فقال: جزاك الله خيرا وبارك الله فيك وعوضك خيرا ما فيه بأس ,لأن الرسول × مامنع من الزيادة .لكن مثل هذه الزيادة التي قد تكون في غير محلها ,قد يكون صاحب المدعو له لا يريد هذا الشيء الذي دعي له به .<br />
السؤال: والآخر يقول :يزيد البعض فيقول : جزاك الله ألف خير<br />
فأجاب: والله الخير ليس له حد ,ليس له حد والألف هذا محدود,والخير بدون حد .لكن هذا مثل عبارات بعض الناس :ألف شكر شكر مثل ما يعبرون.لكن التعبير بهذا الذي جاء في هذا الحديث عام<br />
السؤال: هل هناك دليل على أن الرد يكون بصيغة (وإياكم)؟<br />
فأجاب: لا , الذي ينبغي أن يقول <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' /> وجزاكم الله خيرا) يعنى يدعى كما دعا, وإن قال (وإياكم) مثلا عطف على جزاكم ,يعني قول (وإياكم) يعني كما يحصل لنا يحصل لكم .لكن إذا قال: أنتم جزاكم الله خيرا ونص على الدعاء هذا لا شك أنها أوضح وأولى<br />
(مفرغ من شريط دروس شرح سنن الترمذي ,كتاب البر والصلة ,رقم:222)</p>
<p><span style="font-family:Tahoma,Verdana,Arial,sans-serif;color:#333333;"><span style="font-family:Tahoma,Verdana,Arial,sans-serif;color:#333333;"><span>Penulis: Asy-Syaikh Al-Muhaddits Abdul Muhsin Al-Abbad hafizhahullah </span></span></span></p>
<p><span style="font-family:Tahoma,Verdana,Arial,sans-serif;color:#333333;">http://darussalaf.or.id/stories.php?id=1520<br />
http://ibnulqoyyim.com/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=36&amp;Itemid=1 </span></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/assunnahindonesia.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/assunnahindonesia.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/assunnahindonesia.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/assunnahindonesia.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/assunnahindonesia.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/assunnahindonesia.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/assunnahindonesia.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/assunnahindonesia.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/assunnahindonesia.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/assunnahindonesia.wordpress.com/47/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=assunnahindonesia.wordpress.com&blog=8506513&post=47&subd=assunnahindonesia&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://assunnahindonesia.wordpress.com/2009/07/21/ucapan-jazaakallohu-khoir/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f495a24dbd70dd1bb48151a098184ae7?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Kajian Islam Assunnah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hukum Qunut Subuh</title>
		<link>http://assunnahindonesia.wordpress.com/2009/07/20/hukum-qunut-subuh/</link>
		<comments>http://assunnahindonesia.wordpress.com/2009/07/20/hukum-qunut-subuh/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 19 Jul 2009 16:35:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Kajian Islam Assunnah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[abu salafy]]></category>
		<category><![CDATA[bacaan qunut]]></category>
		<category><![CDATA[hukum qunut]]></category>
		<category><![CDATA[qunut subuh]]></category>
		<category><![CDATA[salafyindonesia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://assunnahindonesia.wordpress.com/?p=44</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan :
Salah satu masalah kontraversial di tengah masyarakat adalah qunut Shubuh. Sebagian menganggapnya sebagai amalan sunnah, sebagian lain menganggapnya pekerjaan bid&#8217;ah. Bagaimanakah hukum qunut Shubuh sebenarnya ?
Jawab :
Dalam masalah ibadah, menetapkan suatu amalan bahwa itu adalah disyariatkan (wajib maupun sunnah) terbatas pada adanya dalil dari Al-Qur&#8217;an maupun As-sunnah yang shohih menjelaskannya. Kalau tidak ada dalil [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=assunnahindonesia.wordpress.com&blog=8506513&post=44&subd=assunnahindonesia&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><span style="font-family:Tahoma,Verdana,Arial,sans-serif;color:#333333;">Pertanyaan :</span></p>
<p>Salah satu masalah kontraversial di tengah masyarakat adalah qunut Shubuh. Sebagian menganggapnya sebagai amalan sunnah, sebagian lain menganggapnya pekerjaan bid&#8217;ah. Bagaimanakah hukum qunut Shubuh sebenarnya ?<span id="more-44"></span></p>
<p>Jawab :</p>
<p>Dalam masalah ibadah, menetapkan suatu amalan bahwa itu adalah disyariatkan (wajib maupun sunnah) terbatas pada adanya dalil dari Al-Qur&#8217;an maupun As-sunnah yang shohih menjelaskannya. Kalau tidak ada dalil yang benar maka hal itu tergolong membuat perkara baru dalam agama (bid&#8217;ah), yang terlarang dalam syariat Islam sebagaimana dalam hadits Aisyah riwayat Bukhary-Muslim :</p>
<p>مَنْ أَحْدَثَ فِيْ أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَد ٌّ. وَ فِيْ رِوَايَةِ مُسْلِمٍ : ((مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمُرُنَا فَهُوَ رَدَّ</p>
<p>&#8220;Siapa yang yang mengadakan hal baru dalam perkara kami ini (dalam Agama-pent.) apa yang sebenarnya bukan dari perkara maka hal itu adalah tertolak&#8221;. Dan dalam riwayat Muslim : &#8220;Siapa yang berbuat satu amalan yang tidak di atas perkara kami maka ia (amalan) adalah tertolak&#8221;.</p>
<p>Dan ini hendaknya dijadikan sebagai kaidah pokok oleh setiap muslim dalam menilai suatu perkara yang disandarkan kepada agama.</p>
<p>Setelah mengetahui hal ini, kami akan berusaha menguraikan pendapat-pendapat para ulama dalam masalah ini.</p>
<p>Uraian Pendapat Para Ulama</p>
<p>Ada tiga pendapat dikalangan para ulama, tentang disyariatkan atau tidaknya qunut Shubuh.</p>
<p>Pendapat pertama : Qunut shubuh disunnahkan secara terus-menerus, ini adalah pendapat Malik, Ibnu Abi Laila, Al-Hasan bin Sholih dan Imam Syafi&#8217;iy.</p>
<p>Pendapat kedua : Qunut shubuh tidak disyariatkan karena qunut itu sudah mansukh (terhapus hukumnya). Ini pendapat Abu Hanifah, Sufyan Ats-Tsaury dan lain-lainnya dari ulama Kufah.</p>
<p>Pendapat ketiga : Qunut pada sholat shubuh tidaklah disyariatkan kecuali pada qunut nazilah maka boleh dilakukan pada sholat shubuh dan pada sholat-sholat lainnya. Ini adalah pendapat Imam Ahmad, Al-Laits bin Sa&#8217;d, Yahya bin Yahya Al-Laitsy dan ahli fiqh dari para ulama ahlul hadits.</p>
<p>Dalil Pendapat Pertama</p>
<p>Dalil yang paling kuat yang dipakai oleh para ulama yang menganggap qunut subuh itu sunnah adalah hadits berikut ini :</p>
<p>مَا زَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ يَقْنُتُ فِيْ صَلاَةِ الْغَدَاةِ حَتَّى فَارَقَ الدُّنْيَا</p>
<p>&#8220;Terus-menerus Rasulullah shollallahu &#8216;alaihi wa a lihi wa sallam qunut pada sholat Shubuh sampai beliau meninggalkan dunia&#8221;.</p>
<p>Dikeluarkan oleh &#8216;Abdurrozzaq dalam Al Mushonnaf 3/110 no.4964, Ahmad 3/162, Ath-Thoh awy dalam Syarah Ma&#8217;ani Al Atsar 1/244, Ibnu Syahin dalam Nasikhul Hadits Wamansukhih no.220, Al-Ha kim dalam kitab Al-Arba&#8217;in sebagaimana dalam Nashbur Royah 2/132, Al-Baihaqy 2/201 dan dalam Ash-Shugro 1/273, Al-Baghawy dalam Syarhus Sunnah 3/123-124 no.639, Ad-Daruquthny dalam Sunannya 2/39, Al-Maqdasy dalam Al-Mukhtaroh 6/129-130 no.2127, Ibnul Jauzy dalam At-Tahqiq no.689-690 dan dalam Al-&#8217;Ilal Al-Mutanahiyah no.753 dan Al-Khatib Al-Baghdady dalam Mudhih Auwan Al Jama&#8217; wat Tafr iq 2/255 dan dalam kitab Al-Qunut sebagaimana dalam At-Tahqiq 1/463.</p>
<p>Semuanya dari jalan Abu Ja&#8217;far Ar-Rozy dari Ar-Robi&#8217; bin Anas dari Anas bin Malik.</p>
<p>Hadits ini dishohihkan oleh Muhammad bin &#8216;Ali Al-Balkhy dan Al-Hakim sebagaimana dalam Khulashotul Badrul Munir 1/127 dan disetujui pula oleh Imam Al-Baihaqy. Namun Imam Ibnu Turkumany dalam Al-Jauhar An-Naqy berkata : &#8220;Bagaimana bisa sanadnya menjadi shohih sedang rowi yang meriwayatkannya dari Ar-Rob i&#8217; bin Anas adalah Abu Ja&#8217;far &#8216;Isa bin Mahan Ar-Rozy mutakallamun fihi (dikritik)&#8221;. Berkata Ibnu Hambal dan An-Nasa`i : &#8220;Laysa bil qowy (bukan orang yang kuat)&#8221;. Berkata Abu Zur&#8217;ah : &#8221; Yahimu katsiran (Banyak salahnya)&#8221;. Berkata Al-Fallas : &#8220;Sayyi`ul hifzh (Jelek hafalannya)&#8221;. Dan berkata Ibnu Hibban : &#8220;Dia bercerita dari rowi-rowi yang masyhur hal-hal yang mungkar&#8221;.&#8221;</p>
<p>Dan Ibnul Qoyyim dalam Zadul Ma&#8217;ad jilid I hal.276 setelah menukil suatu keterangan dari gurunya Ibnu Taimiyah tentang salah satu bentuk hadits mungkar yang diriwayatkan oleh Abu Ja&#8217;far Ar-Rozy, beliau berkata : &#8220;Dan yang dimaksudkan bahwa Abu Ja&#8217;far Ar-R ozy adalah orang yang memiliki hadits-hadits yang mungkar, sama sekali tidak dipakai berhujjah oleh seorang pun dari para ahli hadits periwayatan haditsnya yang ia bersendirian dengannya&#8221;.</p>
<p>Dan bagi siapa yang membaca keterangan para ulama tentang Abu Ja&#8217;far Ar-R ozy ini, ia akan melihat bahwa kritikan terhadap Abu Ja&#8217;far ini adalah Jarh mufassar (Kritikan yang jelas menerangkan sebab lemahnya seorang rawi). Maka apa yang disimpulkan oleh Ibnu Hajar dalam Taqrib-Tahdzib sudah sangat tepat. Beliau berkata : &#8220;Shoduqun sayi`ul hifzh khususon &#8216;anil Mughiroh (Jujur tapi jelek hafalannya, terlebih lagi riwayatnya dari Mughirah).</p>
<p>Maka Abu Ja&#8217;far ini lemah haditsnya dan hadits qunut subuh yang ia riwayatkan ini adalah hadits yang lemah bahkan hadits yang mungkar.</p>
<p>Dihukuminya hadits ini sebagai hadits yang mungkar karena 2 sebab :</p>
<p>Satu : Makna yang ditunjukkan oleh hadits ini bertentangan dengan hadits shohih yang menunjukkan bahwa Nabi shollallahu &#8216;alaihi wa alihi wa sallam tidak melakukan qunut kecuali qunut nazilah, sebagaimana dalam hadits Anas bin Malik :</p>
<p>أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ كَانَ لاَ يَقْنُتُ إِلاَّ إِذَا دَعَا لِقَوْمٍ أَوْ عَلَى قَوْمٍ</p>
<p>&#8220;Sesungguhnya Nabi shollallahu &#8216;alaihi wa a lihi wa sallam tidak melakukan qunut kecuali bila beliau berdo&#8217;a untuk (kebaikan) suatu kaum atau berdo&#8217;a (kejelekan atas suatu kaum)&#8221; . Dikeluarkan oleh Ibnu Khuzaimah 1/314 no. 620 dan dan Ibnul Jauzi dalam At-Tahqiq 1/460 dan dishahihkan oleh Syeikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 639.</p>
<p>Kedua : Adanya perbedaan lafazh dalam riwayat Abu Ja&#8217;far Ar-Rozy ini sehingga menyebabkan adanya perbedaan dalam memetik hukum dari perbedaan lafazh tersebut dan menunjukkan lemahnya dan tidak tetapnya ia dalam periwayatan. Kadang ia meriwayatkan dengan lafazh yang disebut di atas dan kadang meriwayatkan dengan lafazh :</p>
<p>أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ قَنَتَ فٍي الْفَجْرِ</p>
<p>&#8220;Sesungguhnya Nabi shollahu &#8216;alahi wa alihi wa sallam qunut pada shalat Subuh&#8221;.</p>
<p>Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushonnaf 2/104 no.7003 (cet. Darut Taj) dan disebutkan pula oleh imam Al Maqdasy dalam Al Mukhtarah 6/129.</p>
<p>emudian sebagian para &#8216;ulama syafi&#8217;iyah menyebutkan bahwa hadits ini mempunyai beberapa jalan-jalan lain yang menguatkannya, maka mari kita melihat jalan-jalan tersebut :</p>
<p>Jalan Pertama : Dari jalan Al-Hasan Al-Bashry dari Anas bin Malik, beliau berkata :</p>
<p>قَنَتَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى الله ُعَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ وَأَبُوْ بَكْرٍ وَعُمْرَ وَعُثْمَانَ وَأَحْسِبُهُ وَرَابِعٌ حَتَّى فَارَقْتُهُمْ</p>
<p>&#8220;Rasulullah Shollallahu &#8216;alaihi wa alihi wa Sallam, Abu Bakar, &#8216;Umar dan &#8216;Utsman, dan saya (rawi) menyangka &#8220;dan keempat&#8221; sampai saya berpisah denga mereka&#8221;.</p>
<p>Hadits ini diriwayatkan dari Al Hasan oleh dua orang rawi :</p>
<p>Pertama : &#8216;Amru bin &#8216;Ubaid. Dikeluarkan oleh Ath-Thohawy dalam Syarah Ma&#8217;ani Al Atsar 1/243, Ad-Daraquthny 2/40, Al Baihaqy 2/202, Al Khatib dalam Al Qunut dan dari jalannya Ibnul Jauzy meriwayatkannya dalam At-Tahqiq no.693 dan Adz-Dzahaby dalam Tadzkiroh Al Huffazh 2/494. Dan &#8216;Amru bin &#8216;Ubaid ini adalah gembong kelompok sesat Mu&#8217;tazilah dan dalam periwayatan hadits ia dianggap sebagai rawi yang matrukul hadits (ditinggalkan haditsnya).</p>
<p>Kedua : Isma&#8217;il bin Muslim Al Makky, dikeluarkan oleh Ad-Da raquthny dan Al Baihaqy. Dan Isma&#8217;il ini dianggap matrukul hadits oleh banyak orang imam. Baca : Tahdzibut Tahdzib.</p>
<p>Catatan :</p>
<p>Berkata Al Hasan bin Sufyan dalam Musnadnya : Menceritakan kepada kami Ja&#8217;far bin Mihr on, (ia berkata) menceritakan kepada kami &#8216;Abdul Warits bin Sa&#8217;id, (ia berkata) menceritakan kepada kami Auf dari Al Hasan dari Anas beliau berkata :</p>
<p>صَلَّيْتُ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ يَزَلْ يَقْنُتُ فِيْ صَلاَةِ الْغَدَاةِ حَتَّى فَارَقْتُهُ</p>
<p>&#8220;Saya sholat bersama Rasulullah Shollallahu &#8216;alaihi wa alihi wa Sallam maka beliau terus-menerus qunut pada sholat Subuh sampai saya berpisah dengan beliau&#8221;.</p>
<p>Riwayat ini merupakan kekeliruan dari Ja&#8217;far bin Mihron sebagaimana yang dikatakan oleh imam Adz-Dzahaby dalam Mizanul I&#8217;tidal 1/418. Karena &#8216;Abdul Warits tidak meriwayatkan dari Auf tapi dari &#8216;Amru bin &#8216;Ubeid sebagaiman dalam riwayat Abu &#8216;Umar Al Haudhy dan Abu Ma&#8217;mar – dan beliau ini adalah orang yang paling kuat riwayatnya dari &#8216;Abdul Warits-.</p>
<p>Jalan kedua : Dari jalan Khalid bin Da&#8217;laj dari Qotadah dari Anas bin M alik :</p>
<p>صَلَّيْتُ خَلْفَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ وَخَلْفَ عُمَرَ فَقَنَتَ وَخَلْفَ عُثْمَانَ فَقَنَتَ</p>
<p>&#8220;Saya sholat di belakang Rasulullah shollallahu &#8216;alaihi wa alihi wa sallam lalu beliau qunut, dan dibelakang &#8216;umar lalu beliau qunut dan di belakang &#8216;Utsman lalu beliau qunut&#8221;.</p>
<p>Dikeluarkan oleh Al Baihaqy 2/202 dan Ibnu Syahin dalam Nasikhul Hadi ts wa Mansukhih no.219. Hadits di atas disebutkan oleh Al Baihaqy sebagai pendukung untuk hadits Abu Ja&#8217;far Ar-Rozy tapi Ibnu Turkumany dalam Al Jauhar An Naqy menyalahkan hal tersebut, beliau berkata : &#8220;Butuh dilihat keadaan Khalid apakah bisa dipakai sebagai syahid (pendukung) atau tidak, karena Ibnu Hambal, Ibnu Ma&#8217;in dan Ad-Daruquthny melemahkannya dan Ibnu Ma&#8217; in berkata di (kesempatan lain) : laisa bi syay`in (tidak dianggap) dan An-Nasa`i berkata : laisa bi tsiqoh (bukan tsiqoh). Dan tidak seorangpun dari pengarang Kutubus Sittah yang mengeluarkan haditsnya. Dan dalam Al-Mizan, Ad Daraquthny mengkategorikannya dalam rowi-rowi yang matruk.</p>
<p>Kemudian yang aneh, di dalam hadits Anas yang lalu, perkataannya &#8220;Terus-menerus beliau qunut pada sholat Subuh hingga beliau meninggalkan dunia&#8221;, itu tidak terdapat dalam hadits Khal id. Yang ada hanyalah &#8220;beliau (nabi) &#8216;alaihis Salam qunut&#8221;, dan ini adalah perkara yang ma&#8217;ruf (dikenal). Dan yang aneh hanyalah terus-menerus melakukannya sampai meninggal dunia. Maka di atas anggapan dia cocok sebagai pendukung, bagaimana haditsnya bisa dijadikan sebagai syahid (pendukung)&#8221;.</p>
<p>Jalan ketiga : Dari jalan Ahmad bin Muhammad dari Dinar bin &#8216;Abdillah dari Anas bin Malik :</p>
<p>مَا زَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ يَقْنُتُ فِيْ صَلاَةِ الْصُبْحِ حَتَّى مَاتَ</p>
<p>&#8220;Terus-menerus Rasulullah Shollallahu &#8216;alaihi wa a lihi wa Sallam qunut pada sholat Subuh sampai beliau meninggal&#8221;.</p>
<p>Dikeluarkan oleh Al Khatib dalam Al Qunut dan dari jalannya, Ibnul Jauzy dalam At-Tahq iq no. 695.</p>
<p>Ahmad bin Muhammad yang diberi gelar dengan nama Ghulam Khalil adalah salah seorang pemalsu hadits yang terkenal. Dan Dinar bin &#8216;Abdillah, kata Ibnu &#8216;Ady : &#8220;Mungkarul hadits (Mungkar haditsnya)&#8221;. Dan berkata Ibnu Hibba n : &#8220;Ia meriwayatkan dari Anas bin Malik perkara-perkara palsu, tidak halal dia disebut di dalam kitab kecuali untuk mencelanya&#8221;.</p>
<p>Kesimpulan pendapat pertama:</p>
<p>Jelaslah dari uraian diatas bahwa seluruh dalil-dalil yang dipakai oleh pendapat pertama adalah hadits yang lemah dan tidak bisa dikuatkan.</p>
<p>Kemudian anggaplah dalil mereka itu shohih bisa dipakai berhujjah, juga tidak bisa dijadikan dalil akan disunnahkannya qunut subuh secara terus-menerus, sebab qunut itu secara bahasa mempunyai banyak pengertian. Ada lebih dari 10 makna sebagaimana yang dinukil oleh Al-Hafidh Ibnu Hajar dari Al-Iraqi dan Ibnul Arabi.</p>
<p>1) Doa</p>
<p>2) Khusyu&#8217;</p>
<p>3) Ibadah</p>
<p>4) Taat</p>
<p>5) Menjalankan ketaatan.</p>
<p>6) Penetapan ibadah kepada Allah</p>
<p>7) Diam</p>
<p> <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_cool.gif' alt='8)' class='wp-smiley' /> Shalat</p>
<p>9) Berdiri</p>
<p>10) Lamanya berdiri</p>
<p>11) Terus menerus dalam ketaatan</p>
<p>Dan ada makna-makna yang lain yang dapat dilihat dalam Tafsir Al-Qurthubi 2/1022, Mufradat Al-Qur&#8217;an karya Al-Ashbahany hal. 428 dan lain-lain.</p>
<p>Maka jelaslah lemahnya dalil orang yang menganggap qunut subuh terus-menerus itu sunnah.</p>
<p>Dalil Pendapat Kedua</p>
<p>Mereka berdalilkan dengan hadits Abu Hurairah riwayat Bukhary-Muslim :</p>
<p>كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ حِيْنَ يَفْرَغُ مِنْ صَلاَةِ الفَجْرِ مِنَ الْقِرَاءَةِ وَيُكَبِّرُ وَيَرْفَعُ رَأْسَهُ سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ ثُمَّ يَقُوْلُ وَهُوَ قَائِمٌ اَللَّهُمَّ أَنْجِ اَلْوَلِيْدَ بْنَ الْوَلِيْدِ وَسَلَمَةَ بْنَ هِشَامٍ وَعَيَّاشَ بْنَ أَبِيْ رَبِيْعَةَ وَالْمُسْتَضْعَفِيْنَ مِنَ الْمُُؤْمِنِيْنَ اَللَّهُمَّ اشْدُدْ وَطْأَتَكَ عَلَى مُضَرَ وَاجْعَلْهَا عَلَيْهِمْ كَسِنِيْ يُوْسُفَ اَللَّهُمَّ الْعَنْ لِحْيَانَ وَرِعْلاً وَذَكْوَانَ وَعُصَيَّةَ عَصَتِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ ثُمَّ بَلَغَنَا أَنَهُ تَرَكَ ذَلِكَ لَمَّا أَنْزَلَ : (( لَيْسَ لَكَ مِنَ الأَمْرِ شَيْءٌ أَوْ يَتُوْبَ عَلَيْهِمْ أَوْ يُعَذِّبَهُمْ فَإِنَّهُمْ ظَالِمُوْنَ ))</p>
<p>&#8220;Adalah Rasulullah shollallahu &#8216;alaihi wa alihi wa sallam ketika selesai membaca (surat dari rakaat kedua) di shalat Fajr dan kemudian bertakbir dan mengangkat kepalanya (I&#8217;tidal) berkata : &#8220;Sami&#8217;allahu liman hamidah rabbana walakal hamdu, lalu beliau berdoa dalaam keadaan berdiri. &#8220;Ya Allah selamatkanlah Al-Walid bin Al-Walid, Salamah bin Hisyam, &#8216;Ayyasy bin Abi Rabi&#8217;ah dan orang-orang yang lemah dari kaum mu`minin. Ya Allah keraskanlah pijakan-Mu (adzab-Mu) atas kabilah Mudhar dan jadianlah atas mereka tahun-tahun (kelaparan) seperti tahun-tahun (kelaparan yang pernah terjadi pada masa) Nabi Yusuf. Wahai Allah, laknatlah kabilah Lihyan, Ri&#8217;lu, Dzakw an dan &#8216;Ashiyah yang bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya. Kemudian sampai kepada kami bahwa beliau meningalkannya tatkala telah turun ayat : &#8220;Tak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka itu atau Allah menerima taubat mereka, atau mengazab mereka, karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang zalim&#8221;. (HSR.Bukhary-Muslim)</p>
<p>Berdalilkan dengan hadits ini menganggap mansukh-nya qunut adalah pendalilan yang lemah karena dua hal :</p>
<p>Pertama : ayat tersebut tidaklah menunjukkan mansukh-nya qunut sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Al-Qurthuby dalam tafsirnya, sebab ayat tersebut hanyalah menunjukkan peringatan dari Allah bahwa segala perkara itu kembali kepada-Nya. Dialah yang menentukannya dan hanya Dialah yang mengetahui perkara yang ghoib.</p>
<p>Kedua : Diriwayatkan oleh Bukhary – Muslim dari Abu Hurairah, beliau berkata :</p>
<p>وَاللهِ لَأَقْرَبَنَّ بِكُمْ صَلاَةَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ فَكَانَ أَبُوْ هُرَيْرَةَ يَقْنُتُ فِي الظُّهْرِ وَالْعِشَاءِ الْآخِرَةِ وَصَلاَةِ الْصُبْحِ وَيَدْعُوْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَيَلْعَنُ الْكُفَّارَ.</p>
<p>Dari Abi Hurairah radliyallahu `anhu beliau berkata : &#8220;Demi Allah, sungguh saya akan mendekatkan untuk kalian cara shalat Rasulullah shallallahu `alaihi wa alihi wa sallam. Maka Abu Hurairah melakukan qunut pada shalat Dhuhur, Isya&#8217; dan Shubuh. Beliau mendoakan kebaikan untuk kaum mukminin dan memintakan laknat untuk orang-orang kafir&#8221;.</p>
<p>Ini menunjukkan bahwa qunut nazilah belum mansu kh. Andaikata qunut nazilah telah mansukh tentunya Abu Hurairah tidak akan mencontohkan cara sholat Nabi shallallahu `alaihi wa alihi wa sallam dengan qunut nazilah .</p>
<p>Dalil Pendapat Ketiga</p>
<p>Satu : Hadits Sa&#8217;ad bin Thoriq bin Asyam Al-Asyja&#8217;i</p>
<p>قُلْتُ لأَبِيْ : &#8220;يَا أَبَتِ إِنَّكَ صَلَّيْتَ خَلْفَ رَسُوْلُ الله صلى الله عليه وآله وسلم وَأَبِيْ بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيَ رَضِيَ الله عَنْهُمْ هَهُنَا وَبِالْكُوْفَةِ خَمْسَ سِنِيْنَ فَكَانُوْا بَقْنُتُوْنَ فيِ الفَجْرِ&#8221; فَقَالَ : &#8220;أَيْ بَنِيْ مُحْدَثٌ&#8221;.</p>
<p>&#8220;Saya bertanya kepada ayahku : &#8220;Wahai ayahku, engkau sholat di belakang Rasulullah shallallahu `alaihi wa alihi wa sallam dan di belakang Abu Bakar, &#8216;Umar, &#8216;Utsman dan &#8216;Ali radhiyallahu &#8216;anhum di sini dan di Kufah selama 5 tahun, apakah mereka melakukan qunut pada sholat subuh ?&#8221;. Maka dia menjawab : &#8220;Wahai anakku hal tersebut (qunut subuh) adalah perkara baru (bid&#8217;ah)&#8221;. Dikeluarkan oleh Tirmidzy no. 402, An-Nasa`i no.1080 dan dalam Al-Kubro no.667, Ibnu Majah no.1242, Ahmad 3/472 dan 6/394, Ath-Thoy alisy no.1328, Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushonnaf 2/101 no.6961, Ath-Thohawy 1/249, Ath-Thobarany 8/no.8177-8179, Ibnu Hibban sebagaimana dalam Al-Ihs an no.1989, Baihaqy 2/213, Al-Maqdasy dalam Al-Mukhtarah 8/97-98, Ibnul Jauzy dalam At-Tahqiq no.677-678 dan Al-Mizzy dalam Tahdzibul Kam al dan dishohihkan oleh syeikh Al-Albany dalam Irwa`ul Gholil no.435 dan syeikh Muqbil dalam Ash-Shohih Al-Musnad mimma laisa fi Ash-Shoh ihain.</p>
<p>Dua : Hadits Ibnu &#8216;Umar</p>
<p>عَنْ أَبِيْ مِجْلَزِ قَالَ : &#8220;صَلَّيْتُ مَعَ اِبْنِ عُمَرَ صَلاَةَ الصُّبْحِ فَلَمْ يَقْنُتْ&#8221;. فَقُلْتُ : &#8220;آلكِبَرُ يَمْنَعُكَ&#8221;, قَالَ : &#8220;مَا أَحْفَظُهُ عَنْ أَحَدٍ مِنْ أَصْحَابِيْ&#8221;.</p>
<p>&#8221; Dari Abu Mijlaz beliau berkata : saya sholat bersama Ibnu &#8216;Umar sholat shubuh lalu beliau tidak qunut. Maka saya berkata : apakah lanjut usia yang menahanmu (tidak melakukannya). Beliau berkata : saya tidak menghafal hal tersebut dari para shahabatku&#8221;. Dikeluarkan oleh Ath-Thohawy 1246, Al-Baihaqy 2213 dan Ath-Thabarany sebagaimana dalam Majma&#8217; Az-Zawa&#8217;id 2137 dan Al-Haitsamy berkata :&#8221;rawi-rawinya tsiqoh&#8221;.</p>
<p>Ketiga : tidak ada dalil yang shohih menunjukkan disyari&#8217;atkannya mengkhususkan qunut pada sholat shubuh secara terus-menerus.</p>
<p>Keempat : qunut shubuh secara terus-menerus tidak dikenal dikalangan para shahabat sebagaimana dikatakan oleh Ibnu &#8216;Umar diatas, bahkan syaikul islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu&#8217; Al-Fatawa berkata : &#8220;dan demikian pula selain Ibnu &#8216;Umar dari para shahabat, mereka menghitung hal tersebut dari perkara-perkara baru yang bid&#8217;ah&#8221;.</p>
<p>Kelima : nukilan-nukilan orang-orang yang berpendapat disyari&#8217;atkannya qunut shubuh dari beberapa orang shahabat bahwa mereka melakukan qunut, nukilan-nukilan tersebut terbagi dua :</p>
<p>1) Ada yang shohih tapi tidak ada pendalilan dari nukilan-nukilan tersebut.</p>
<p>2) Sangat jelas menunjukkan mereka melakukan qunut shubuh tapi nukilan tersebut adalah lemah tidak bisa dipakai berhujjah.</p>
<p>Keenam: setelah mengetahui apa yang disebutkan diatas maka sangatlah mustahil mengatakan bahwa disyari&#8217;atkannya qunut shubuh secara terus-menerus dengan membaca do&#8217;a qunut &#8220;Allahummahdinaa fi man hadait…….sampai akhir do&#8217;a kemudian diaminkan oleh para ma&#8217;mum, andaikan hal tersebut dilakukan secara terus menerus tentunya akan dinukil oleh para shahabat dengan nukilan yang pasti dan sangat banyak sebagaimana halnya masalah sholat karena ini adalah ibadah yang kalau dilakukan secara terus menerus maka akan dinukil oleh banyak para shahabat. Tapi kenyataannya hanya dinukil dalam hadits yang lemah.</p>
<p>Demikian keterangan Imam Ibnul qoyyim Al-Jauziyah dalam Z adul Ma&#8217;ad.</p>
<p>Kesimpulan</p>
<p>Jelaslah dari uraian di atas lemahnya dua pendapat pertama dan kuatnya dalil pendapat ketiga sehinga memberikan kesimpulan pasti bahwa qunut shubuh secara terus-menerus selain qunut nazilah adalah bid&#8217;ah tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah dan para shahabatnya. Wallahu a&#8217;lam.</p>
<p>Silahkan lihat permasalahan ini dalam Tafsir Al Qurthuby 4/200-201, Al Mughny 2/575-576, Al-Inshof 2/173, Syarh Ma&#8217;any Al-Atsar 1/241-254, Al-Ifshoh 1/323, Al-Majmu&#8217; 3/483-485, Hasyiyah Ar-Raud Al Murbi&#8217; : 2/197-198, Nailul Author 2/155-158 (Cet. Darul Kalim Ath Thoyyib), Majm u&#8217; Al Fatawa 22/104-111 dan Zadul Ma&#8217;ad 1/271-285.</p>
<p><span style="font-family:Tahoma,Verdana,Arial,sans-serif;color:#333333;"><span> Penulis: Al Ustadz Abu Muhammad Dzulqarnain </span></span><br />
http://darussalaf.or.id/stories.php?id=436<br />
<span style="font-family:Tahoma,Verdana,Arial,sans-serif;color:#333333;">www.an-nashihah.com</span></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/assunnahindonesia.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/assunnahindonesia.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/assunnahindonesia.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/assunnahindonesia.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/assunnahindonesia.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/assunnahindonesia.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/assunnahindonesia.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/assunnahindonesia.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/assunnahindonesia.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/assunnahindonesia.wordpress.com/44/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=assunnahindonesia.wordpress.com&blog=8506513&post=44&subd=assunnahindonesia&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://assunnahindonesia.wordpress.com/2009/07/20/hukum-qunut-subuh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f495a24dbd70dd1bb48151a098184ae7?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Kajian Islam Assunnah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Jangan Buang Bom Sembarang Tempat!!!</title>
		<link>http://assunnahindonesia.wordpress.com/2009/07/19/jangan-buang-bom-sembarang-tempat/</link>
		<comments>http://assunnahindonesia.wordpress.com/2009/07/19/jangan-buang-bom-sembarang-tempat/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 18 Jul 2009 18:49:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Kajian Islam Assunnah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj Ahlus Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[ba'asyir]]></category>
		<category><![CDATA[bom bunuh diri]]></category>
		<category><![CDATA[bom jihad]]></category>
		<category><![CDATA[bom jw marriot]]></category>
		<category><![CDATA[MMI]]></category>
		<category><![CDATA[Ngruki]]></category>
		<category><![CDATA[NII]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://assunnahindonesia.wordpress.com/?p=41</guid>
		<description><![CDATA[Pembaca yang budiman -semoga dirahmati Allah-,
Mungkin kita sama-sama telah membaca Harian Fajar tanggal 3 Maret 2007 halaman 11, yang memuat tentang pernyataan resmi dari Polda Makassar, bahwa ada enam kelompok yang disinyalir sebagai kelompok teroris. Berita tersebut mengingatkan kita peristiwa enam tahun silam, yaitu peledakan Mall Ratu Indah, Makassar. Ini disebabkan karena ada segelintir pemuda [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=assunnahindonesia.wordpress.com&blog=8506513&post=41&subd=assunnahindonesia&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><span style="font-family:Tahoma,Verdana,Arial,sans-serif;color:#333333;">Pembaca yang budiman -semoga dirahmati Allah-,<br />
Mungkin kita sama-sama telah membaca Harian Fajar tanggal 3 Maret 2007 halaman 11, yang memuat tentang pernyataan resmi dari Polda Makassar, bahwa ada enam kelompok yang disinyalir sebagai kelompok teroris. Berita tersebut mengingatkan kita peristiwa enam tahun silam, yaitu peledakan Mall Ratu Indah, Makassar. Ini disebabkan karena ada segelintir pemuda kaum muslimin yang “buang bomsembarang tempat!!!” Seharusnya bom itu dibuang dan diledakkan di medan jihad, justru dibuang dan diledakkan di negeri kaum muslimin sendiri. <span id="more-41"></span>Mereka terlalu bersemangat dalam menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar, namun tidak dilandasi oleh ilmu, sehingga justru lebih banyak kerusakan yang ditimbulkan daripada manfaat. Oleh karena itu, pada edisi kali ini kami akan memaparkan beberapa kerusakan yang ditimbulkan oleh kejadian tersebut.</span></p>
<p>* Membunuh Diri</p>
<p>Dalam rangka “jihad” memerangi Amerika dan sekutunya, sekian banyak aksi peledakan dan bom bunuh diri terjadi di negeri-negeri kaun muslimin yang dilakoni oleh sebagian pemuda yang tak berbasis ilmu yang kuat. Akibatnya, korban berjatuhan dari kalangan warga sipil muslim sendiri. Padahal Allah -Subhanahu wa Ta’ala- telah melarang seorang muslim membunuh dirinya sendiri di dalam firman-Nya:</p>
<p>وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا</p>
<p>“Dan janganlah kamu membunuh dirimu sungguh Allah maha penyayang kepadamu”. (QS. An-Nisa`: 29)</p>
<p>Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- telah memperingatkan:</p>
<p>من قتل نفسه بحديدة فحديدته في يده يتوجأ بها في بطنه في نار جهنم خالدا مخلدا فيها أبدا ومن شرب سما فقتل نفسه فهو يتحساه في نار جهنم خالدا مخلدا فيها أبدا ومن تردى من جبل فقتل نفسه فهو يتردى في نار جهنم خالدا مخلدا فيها أبدا</p>
<p>“Barang siapa yang membunuh dirinya dengan sepotong besi, maka besinya itu akan berada ditangannya. Dia akan menikam perutnya dengan pisau itu didalam neraka dalam keadaan kekal didalamnya selama-lamanya. Barang siapa yang menenggak racun, lalu ia membunuh dirinya dengan racun itu, maka ia akan meminumnya sedikit-demi sedikit dalam neraka Jahannam dalam keadaan kekal di dalamnya selama-lamanya. Barang siapa yang menghempaskan dirinya dari gunung sehingga dia membunuh dirinya, maka dia akan terhempas dalam neraka dalam keadaan kekal di dalamnya selama-selamanya.” [Muslim dalam Shohih-nya (109)]</p>
<p>Ini adalah perbuatan yang konyol -bukan jihad-. Perbuatan ini tidaklah mendatangkan kemaslahatan bagi Islam, karena bila seandainya dia membunuh dirinya dan membunuh 10 orang atau 100 orang atau 200 orang, maka hal tersebut tidak akan bermanfaat bagi Islam dan tidak membuat manusia ber-Islam. Malah membuat orang lari dari Islam. Karena itulah, perbuatan ini tidak dapat dibenarkan, dan menyebabkan pelakunya diazab di neraka, dan orang yang bunuh diri dengan cara yang seperti ini bukanlah mati syahid. Jika seorang mau berdakwah dan mengajak orang-orang kafir masuk ke dalam Islam, maka dakwahilah mereka dengan cara hikmah, bukan dengan cara emosi dan membabi buta yang mencoreng citra Islam dan kaum muslimin.</p>
<p>* Membunuh Seorang Muslim</p>
<p>Jika kita memperhatikan orang-orang yang menjadi korban pemboman, maka kebanyakannya adalah kaum muslimin sendiri. Duhai, sungguh celakanya orang yang membom ini…! Karena Allah telah mengancamnnya di dalam firman-Nya:</p>
<p>وَمَنْ يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُتَعَمِّدًا فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِدًا فِيهَا وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ وَأَعَدَّ لَهُ عَذَابًا عَظِيمًا</p>
<p>“Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja Maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya”. (QS. An-Nisa`: 93)</p>
<p>Lihatlah pembaca yang budiman! Allah mengancamnya di dalam ayat ini dengan neraka jahannam dan tidak sampai disitu saja, bahkan ia kekal di dalamnya, Allah murka kepadanya, mengutuknya dan menyediakan siksa yang pedih baginya. Ini baru satu orang muslim, bagaimana lagi jika yang dibunuhnya adalah puluhan sampai ratusan orang muslim? -Nas alulllaha ‘afiyah wassalamah-</p>
<p>Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,</p>
<p>لَزَوَالُ لدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللهِ مِنْ قَتْلِ رَجُلٍ مُسْلِمٍ</p>
<p>“Sungguh hancurnya dunia ini lebih ringan di sisi Allah daripada membunuh (jiwa) seorang muslim”. [HR. At-Tirmizy dalam As-Sunan (1399), An-Nasa’iy dalam As-Sunan (7/82), Al-Bazzar dalam Al-Musnad (2393), dan lain-lain. Hadits ini di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albany dalam Ghoyatul Maram (4390)]</p>
<p>Mereka berteriak ketika kaum kuffar AS dan sekutunya membantai jutaan kaum muslimin dengan mengatakan bahwa nyawa seorang muslim itu sangat mahal di sisi Allah. Namun di sisi lain mereka sendiri ternyata juga turut menumpahkan darah kaum muslimin. parahnya lagi kesalahan tersebut berusaha ditutupi dan dibenarkan dengan berjuta dalih: “Ini kan jihad”, “Mereka adalah Mujahid”, “Mereka adalah penghuni surga”, dan “Mereka mati syahid”. Padahal orang-orang yang melakukan aksi teror tersebut adalah orang-orang yang mati konyol, diancam oleh Allah dengan neraka Jahannam. Bagaimana mereka dianggap mati syahid ??!</p>
<p>* Membunuh Kafir Musta’man</p>
<p>Pembaca budiman, ketahuilah bahwa tidak semua orang kafir boleh dibunuh di dalam syariat agama kita, karena sesungguhya orang kafir itu ada empat:macam, yaitu:</p>
<p>o kafir dzimmy</p>
<p>Mereka adalah orang kafir (penduduk asli) yang membayar jizyah (upeti) yang dipunguti tiap tahun sebagai imbalan bolehnya mereka tinggal di negeri kaum muslimin. kafir, seperti ini tidak boleh dibunuh selama ia masih menaati peraturan-peraturan yang dikenakan kepada mereka. Banyak dalil yang menunjukkan hal tersebut diantaranya adalah hadist Al-Mughirah bin syu’bah -radhiyallahu ‘anhu-, beliau berkata,</p>
<p>“Kami diperintah oleh rasul robb kami -Shollallahu ‘alaihi wasallam- untuk memerangi kalian sampai kalian menyembah Allah satu-satunya atau kalian membayat jizyah ”.[HR.Al-Bukhary dalam Ash-Shohih (3158)]</p>
<p>o kafir mu’ahad ,</p>
<p>Mereka adalah orang-orang kafir yang telah terjadi kesepakatan antara mereka dan kaum muslimin untuk tidak berperang dalam kurun waktu yang telah disepakati. Orang kafir seperti ini juga tidak boleh dibunuh, sepanjang mereka menjalankan kesepakatan yang telah dibuat. Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,</p>
<p>من قتل معاهدا لم يرح رائحة الجنة وإن ريحها توجد من مسيرة أربعين عاما</p>
<p>&#8221; Siapa yang mebunuh kafir mu’ahad, ia tidak akan mencium bau surga, dan sesungguhnya bau surga itu tercium dari perjalanan 40 tahun &#8221; . [HR. Al-Bukhariy dalam Shohih-nya (3166), An-Nasa’iy dalam As-Sunan (8/25), dan Ibnu Majah (2686)]</p>
<p>Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda, “Ingatlah, siapa yang menzholimi seorang kafir mu’ahad, merendahkannya, membebani diatas kemampuannya atau mengambil sesuatu darinya, tanpa keridoan dirinya, maka saya adalah lawan bertikainya pada hari kiamat [HR Abu Daud dalam As-Sunan (3052) dan Al Baihaqy (9/205). Hadits ini di-shohih-kan oleh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (445)]</p>
<p>o kafir musta’man</p>
<p>Mereka adalah orang kafir yang mendapat jaminan keamanan dari kaum muslimin atau sebagian kaum muslimin. Kafir jenis ini juga tidak boleh dibunuh, sepanjang masih berada dalam jaminan keamanan. Dalilnya, firman Allah -Ta’ala-,</p>
<p>وَإِنْ أَحَدٌ مِنَ الْمُشْرِكِينَ اسْتَجَارَكَ فَأَجِرْهُ حَتَّى يَسْمَعَ كَلَامَ اللَّهِ ثُمَّ أَبْلِغْهُ مَأْمَنَهُ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَا يَعْلَمُونَ</p>
<p>“Dan jika seorang diantara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, Maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah, Kemudian antarkanlah ia ketempat yang aman baginya. demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak Mengetahui.””. (QS. At-Taubah: 6)</p>
<p>d. kafir harby</p>
<p>Mereka adalah kafir selain yang tiga di atas. kafir jenis inilah yang disyariatkan untuk diperangi dengan ketentuan yang telah ditetapkan dalam syariat Islam. Mengapa harus diperangi? Karena mereka memerangi Islam.Demikianlah ketentuan syariat Allah.</p>
<p>Namun orang kafir harbiy yang masuk ke negeri kaum muslimin dengan jaminan keamanan dari pemerintah muslim berubah statusnya menjadi kafir musta’man, haram untuk diperangi selama dalam perlindungan. Mereka (para pembom) ini tidak peduli lagi dengan syariat Allah dalam hal ini. Padahal pada saat yang sama, mereka selalu meneriakkan, “Ayo tegakkan syari’at Islam”. Namun untuk kali ini, mereka injak-injak sendiri slogan-slogan tersebut. Akibatnya, semua orang kafir sah dan halal darah dan hartanya; perang dan pembunuhan terhadap mereka boleh dilakukan kapan dan di mana saja!! Wahai Pembaca yang budiman, tentunya ini merupakan sikap serampangan yang menyelisihi Al-Kitab, Sunnah, dan tuntunan para ulama’.</p>
<p>* Menzholimi Orang Lain</p>
<p>Allah -‘Azza wa Jalla-, Pencipta kita telah mengharamkan perbuatan zholim atas diri-Nya dan hamba-hamba-Nya sebagaimana yang diterangkan dalam hadits Qudsiy, Allah berfirman,</p>
<p>يَا عِبَادِيْ إِنِّيْ حَرَّمْتُ الظُلْمَ عَلَى نَفْسِيْ وَجَعَلْتُهُ بيَنْكَمُْ مُحَرَّمًا فَلاَ تَظَالَمُوْا</p>
<p>“Wahai segenap hamba-hamba-Ku, sesungguhnya aku telah mengharamkan perbuatan zholim atas diri-Ku dan Aku telah menjadikan hal tersebut sebagai perkara yang haram antara sesama kalian, maka janganlah kalian saling menzholimi”. [HR. Muslim dalam Shohih-nya (2577) dari Abu Dzar -radhiyallahu ‘anhu-)</p>
<p>Dalam berbagai nas, baik Al-Qur’an, maupun sunnah, telah diterangkan bahwa perbuatan zhalim tidak pernah membawa kebaikan bagi pelakunya di dunia maupun di akhirat. Allah -Subhanahu wa Ta'ala- menyatakan dalam berbagai ayat tentang bahaya perbuatan zholim. Diantaranya, Allah -Subhanahu wa Ta'ala- berfirman,</p>
<p>وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَى يَدَيْهِ يَقُولُ يَا لَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلًا (27) يَا وَيْلَتَى لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا (28) لَقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلْإِنْسَانِ خَذُولًا</p>
<p>“Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zholim menggigit dua tangannya, seraya berkata, “Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul. Kecelakaan besarlah bagiku kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan itu teman akrab(ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al-Qur’an ketika Al-Qur’an itu telah datang kepadaku. dan adalah setan ti tidak mau menolong manusia.”. (QS. Al-Furqan: 27 - 29 )</p>
<p>وَكَمْ قَصَمْنَا مِنْ قَرْيَةٍ كَانَتْ ظَالِمَةً وَأَنْشَأْنَا بَعْدَهَا قَوْمًا آَخَرِينَ</p>
<p>“Dan berapa banyak penduduk negeri yang zholim yang telah kami binasakan, dan kami adakan setelah mereka itu kaum yang lain (sebagai penggantinya)”. (Al-Anbiya`: 11)</p>
<p>Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- juga mengingatkan:</p>
<p>اِتَّقُوْا الظُّلْمَ فَإِنَّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ</p>
<p>“Takutlah terhadap perbuatan zholim, sebab kezholiman adalah kegelapan di atas kegelapan pada hari kiamat” [HR. Al-Bukhary dalam Shohihb-nya(2447), Muslim dalam Shohih-nya (2579), dan At-Tirmidzy dalam As-Sunan (2035) dari sahabat Ibnu Umar -radhiyallahu ‘anhu-]</p>
<p>Inilah beberapa kerusakan dan pelanggaran yang ditimbulkan oleh “aksi buang bom sembarang tempat!!!” Sebenarntyamasih banyak lagi kerusakan yang ditimbulkan oleh perbuatan ini yang belum sempat kami paparkan seperti mencoreng citra Islam, membuat kaum muslimin jadi takut, mengadakan kerusakan di muka bumi, menjadikan orang-orang yang komitmen terhadap agamanya sebagai bahan cercaan dan celaan, merusak harta benda yang terjaga dan dilindungi dalam syariat, dan masih banyak lagi.</p>
<p>Wahai saudaraku, wahai para Pengangkat bendera “jihad”, pernahkah engkau bertanya pada dirimu, “Apakah termasuk jihad, menumpahkan darah kaum muslimin??! Apakah termasuk jihad, menghalalkan darah orang-orang yang haram untuk dibunuh dan? Apakah merupakan jihad menghancurkan harta benda kaum muslimin? Apakah engkau telah berjihad membenahi dirimu dalam mempelajari ilmu dan mengamalkannya? Sudahkah engkau berjihad mengikuti Al-Qur’an dan sunnah? Apakah engkau telah mengikuti Al-Qur’an dan sunnah, walaupun menyelisihi hawa nafsumu. ketahuilah saudaraku, jihad di jalan Allah bukanlah untuk pelampiasan dan pemuas hawa nafsu, namun dia adalah ibadah yang sangat agung dan salah satu simbol agama yang suci. Ingatlah, memperbaiki masyarakat adalah tanggung jawab bersama, sebarkan ilmu syari’at Islam di tengah ummat, tegakkan hukum Allah, dan jauhilah segala sebab kerusakan dan kehancuran”.</p>
<p>Sumber : Buletin Jum’at Al-Atsariyyah edisi 11 Tahun I. Penerbit : Pustaka Ibnu Abbas. Alamat : Pesantren Tanwirus Sunnah, Jl. Bonto Te’ne No. 58, Kel. Borong Loe, Kec. Bonto Marannu, Gowa-Sulsel. HP : 08124173512 (a/n Ust. Abu Fa’izah). Pimpinan Redaksi/Penanggung Jawab : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Dewan Redaksi : Santri Ma’had Tanwirus Sunnah – Gowa. Editor/Pengasuh : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Layout : Abu Muhammad Mulyadi. Untuk berlangganan hubungi alamat di atas. (infaq Rp. 200,-/exp)</p>
<p>http://darussalaf.or.id/stories.php?id=1516</p>
<p><span style="font-family:Tahoma,Verdana,Arial,sans-serif;color:#333333;">http://almakassari.com/artikel-islam/aqidah/%E2%80%9Cjangan-buang-bom-sembarang-tempat%E2%80%9D.html </span></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/assunnahindonesia.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/assunnahindonesia.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/assunnahindonesia.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/assunnahindonesia.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/assunnahindonesia.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/assunnahindonesia.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/assunnahindonesia.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/assunnahindonesia.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/assunnahindonesia.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/assunnahindonesia.wordpress.com/41/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=assunnahindonesia.wordpress.com&blog=8506513&post=41&subd=assunnahindonesia&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://assunnahindonesia.wordpress.com/2009/07/19/jangan-buang-bom-sembarang-tempat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f495a24dbd70dd1bb48151a098184ae7?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Kajian Islam Assunnah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hukuman Bagi Pelaku Terorisme Dalam Syari’at Islam</title>
		<link>http://assunnahindonesia.wordpress.com/2009/07/18/hukuman-bagi-pelaku-terorisme-dalam-syari%e2%80%99at-islam/</link>
		<comments>http://assunnahindonesia.wordpress.com/2009/07/18/hukuman-bagi-pelaku-terorisme-dalam-syari%e2%80%99at-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 17 Jul 2009 18:45:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Kajian Islam Assunnah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fatwa Ulama Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[bom]]></category>
		<category><![CDATA[bom bali]]></category>
		<category><![CDATA[bom kuningan]]></category>
		<category><![CDATA[bom marriot]]></category>
		<category><![CDATA[bom syahid]]></category>
		<category><![CDATA[jihad]]></category>
		<category><![CDATA[teroris]]></category>
		<category><![CDATA[terorist]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://assunnahindonesia.wordpress.com/?p=38</guid>
		<description><![CDATA[Dalam Keputusan Majelis Hai‘ah Kibar ‘Ulama (Lembaga Ulama Besar) No.148 tanggal 12/1/1409 H yang dimuat oleh majalah Majma’ Al-Fiqh Al-Islamy edisi 2 hal.181 dan majalah Al-Buhuts Al-Islamiyah edisi 24 hal.384-387, dikeluarkan keputusan dari Majelis Hai‘ah Kibar ‘Ulama dan kemudian keputusan ini disetujuhi oleh para anggota majelis seperti syeikh Ibnu Bazz, syeikh Ibnu ’Utsaimin, syeikh ’Abdul [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=assunnahindonesia.wordpress.com&blog=8506513&post=38&subd=assunnahindonesia&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Dalam Keputusan Majelis Hai‘ah Kibar ‘Ulama (Lembaga Ulama Besar) No.148 tanggal 12/1/1409 H yang dimuat oleh majalah Majma’ Al-Fiqh Al-Islamy edisi 2 hal.181 dan majalah Al-Buhuts Al-Islamiyah edisi 24 hal.384-387, dikeluarkan keputusan dari Majelis Hai‘ah Kibar ‘Ulama dan kemudian keputusan ini disetujuhi oleh para anggota majelis seperti syeikh Ibnu Bazz, syeikh Ibnu ’Utsaimin, syeikh ’Abdul ’Aziz Alu Syeikh, syeikh Sholih Al-Fauzan, syeikh Sholih Al-Luhaidan dan 12 anggota yang lainnya.<span id="more-38"></span><br />
الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِيْنَ ، وَلاَ عُدْوَانَ إِلاَّ عَلَى الظَّالِمِيْنَ. وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَى خَيْرِ خَلْقِهِ أَجْمَعِيْنَ ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ وَمَنِ اهْتَدَى بِهَدْيِهِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ . وَبَعْدُ:<br />
Majelis Hai‘ah Kibar ‘Ulama dalam sidangnya yang ke-32 yang diselenggarakan di kota Thaif dari tanggal 8/1/1409 – 12/1/1409 H, berdasarkan bukti-bukti yang kuat berkaitan dengan banyaknya aksi-aksi perusakan yang telah menelan korban yang sangat banyak dari kalangan orang-orang yang tidak berdosa dan telah rusak karenanya (sesuatu yang) banyak dari harta benda, hak-hak milik maupun fasilitas-fasilitas umum baik di negeri-negeri Islam maupun yang di negeri lain yang dilakukan oleh orang-orang yang lemah atau hilang imannya dari orang-orang yang memiliki jiwa yang sakit dan dendam. Diantaranya menghancurkan rumah-rumah dan membakarnya baik tempat-tempat umum maupun yang khusus, menghancurkan jembatan-jembatan dan terowongan-terowongan, peledakan pesawat atau membajaknya. Melihat kejadian-kejadian seperti ini, beberapa negara baik yang dekat maupun yang jauh dan karena Arab Saudi sama seperti negara-negara lainnya, memiliki kemungkinan akan diserbu oleh aksi-aksi perusakan ini. Maka Majelis Hai‘ah Kibar ‘Ulama melihat sangat pentingnya untuk menetapkan hukuman bagi pelakunya sebagai langkah preventif untuk mencegah orang-orang dari melakukan gerakan perusakan baik gerakan tersebut dilakukan terhadap tempat-tempat umum dan sarana-sarana milik pemerintah maupun ditujukan kepada yang lainnya dengan tujuan untuk merusak dan mengganggu keamanan dan ketentraman.<br />
Majelis telah meneliti apa yang disebutkan oleh para ulama bahwa hukum-hukum syari’at secara umum mewajibkan untuk menjaga 5 perkara pokok dan memperhatikan sebab-sebab yang menjaga kelestarian dan keselamatannya, yaitu : agama, jiwa, kehormatan, akal dan harta. Dan Majelis telah memperoleh gambaran akan bahaya-bahaya yang sangat besar yang timbul akibat Jarimah (perbuatan keji) pelampauan batas terhadap Hurumat (hak-hak suci) kaum muslimin pada jiwa, kehormatan dan harta mereka dan apa-apa yang disebabkan oleh aksi-aksi perusakan ini berupa hilangnya rasa keamanan umum dalam negara, timbulnya kekacauan dan kegoncangan dan membuat takut kaum muslimin atas dirinya maupun harta bendanya.<br />
Allah ‘Azza wa Jalla menjaga manusia ; agama, badan, jiwa, kehormatan, akal dan harta bendanya dengan disyari’atkannya hudud (hukum-hukum ganjaran) dan uqubah (hukuman balasan) yang akan menciptakan keamanan secara umum dan khusus.<br />
Dan di antara yang menjelaskan hal tersebut adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :<br />
مِنْ أَجْلِ ذَلِكَ كَتَبْنَا عَلَى بَنِي إِسْرَائِيلَ أَنَّهُ مَنْ قَتَلَ نَفْسًا بِغَيْرِ نَفْسٍ أَوْ فَسَادٍ فِي الْأَرْضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيعًا<br />
“Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa : barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya”. (QS. Al-Ma`idah : 32).<br />
Dan firman-Nya Subhanahu Wa Ta’ala :<br />
إِنَّمَا جَزَاءُ الَّذِينَ يُحَارِبُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَسْعَوْنَ فِي الْأَرْضِ فَسَادًا أَنْ يُقَتَّلُوا أَوْ يُصَلَّبُوا أَوْ تُقَطَّعَ أَيْدِيهِمْ وَأَرْجُلُهُمْ مِنْ خِلاَفٍ أَوْ يُنْفَوْا مِنَ الْأَرْضِ ذَلِكَ لَهُمْ خِزْيٌ فِي الدُّنْيَا وَلَهُمْ فِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٌ<br />
“Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik (secara bersilangan), atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). Yang demikian itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka di dunia, dan bagi mereka di akhirat siksaan yang besar”. (QS. Al-Ma`idah : 33).<br />
Dan penerapan hal tersebut merupakan jaminan untuk meratakan (menyebarkan) rasa aman dan ketentraman dan mencegah orang yang akan menjerumuskan dirinya dalam perbuatan dosa dan melampaui batas tehadap kaum muslimin pada jiwa-jiwa dan harta benda mereka. Dan jumhur (kebanyakan) ulama berpendapat bahwasanya hukum muharabah (memerangi pembuat kerusakan) di kota-kota dan selainnya adalah sama, dengan dalil firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :<br />
وَيَسْعَوْنَ فِي الْأَرْضِ فَسَادًا<br />
“Dan berupaya membuat kerusakan di muka bumi”.<br />
Dan Allah Ta’ala berfirman :<br />
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يُعْجِبُكَ قَوْلُهُ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيُشْهِدُ اللَّهَ عَلَى مَا فِي قَلْبِهِ وَهُوَ أَلَدُّ الْخِصَامِ وَإِذَا تَوَلَّى سَعَى فِي الْأَرْضِ لِيُفْسِدَ فِيهَا وَيُهْلِكَ الْحَرْثَ وَالنَّسْلَ وَاللَّهُ لاَ يُحِبُّ الْفَسَادَ“Dan di antara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu, dan dipersaksikannya kepada Allah (atas kebenaran) isi hatinya, padahal ia adalah penantang yang paling keras. Dan apabila ia berpaling (dari kamu), ia berjalan di bumi untuk mengadakan kerusakan padanya, dan membinasakan tanam-tanaman dan binatang ternak, dan Allah tidak menyukai perusakan”. (QS. Al-Baqarah : 204-205). Dan (Allah) Ta’ala berfirman :<br />
وَلاَ تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلاَحِهَا<br />
“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya”.(QS. Al-A’raf : 56,85).<br />
Berkata Ibnu Katsir rahimahullahu Ta’ala : “(Allah) telah melarang membuat kerusakan di muka bumi dan apa-apa yang membahayakannya setelah diperbaikinya karena sesungguhnya apabila perkara-perkara berjalan di atas As-Sadad (lurus dan baik) kemudian terjadi kerusakan setelah itu maka itu adalah sesuatu yang paling berbahaya atas para hamba maka (Allah) Ta’ala melarang hal tersebut”.<br />
Dan berkata Al-Qurthuby : “(Allah) Subhanahu Wa Ta’ala melarang setiap kerusakan sedikit maupun banyak setelah perbaikan yang sedikit maupun banyak maka hal ini (berlaku)<br />
secara umum menurut (pendapat) yang benar dari berbagai pendapat (yang ada)”.<br />
Berdasarkan penjelasan di atas dan karena apa yang telah lalu penjelasannya melampaui perbuatan-perbuatan para perusak yang mereka itu memiliki target-target khusus dimana mereka mengejar hasilnya berupa harta benda atau kehormatan. Dan sasaran mereka (para pelaku teror itu-pen.) adalah mengganggu keamanan dan merobohkan bangunan umat dan membongkar aqidahnya dan melencengkannya dari manhaj Rabbany (manhaj yang haq).<br />
Maka majelis dengan sepakat memutuskan (hal-hal) sebagai berikut :<br />
Pertama : Siapa yang terbukti secara syar’i melakukan perbuatan dari perbuatan-perbuatan terorisme dan membuat kerusakan di muka bumi yang menyebabkan gangguan keamanan dan menganiaya jiwa-jiwa dan harta benda baik milik khusus maupun yang milik umum seperti menghancurkan rumah-rumah, mesjid-mesjid, sekolah-sekolah atau rumah sakit, pabrik-pabrik, jembatan-jembatan, gudang-gudang senjata, penampungan-penampungan air, fasilitas-fasilitas umum untuk baitul mal seperti saluran-saluran/pipa-pipa minyak dan menghancurkan pesawat atau membajaknya dan yang semacamnya, maka hukumannya adalah dibunuh berdasarkan kandungan ayat-ayat di atas bahwasanya perusakan di muka bumi yang seperti ini mengharuskan penumpahan darah si perusak. Dan karena bahaya dan kerusakan yang dilakukan oleh orang-orang yang melakukan perbuatan-perbuatan perusakan adalah lebih besar dari bahaya dan kerusakan pembegal jalanan yang melampaui batas kepada seseorang lalu membunuh dan merampas hartanya,maka Allah telah menetapkan hukumannya dalam apa yang tersebut dalam ayat Al-Harabah (QS. Al-Ma`idah : 33 di atas-pen.).<br />
Kedua : Bahwasanya sebelum menjatuhkan hukuman sebagaimana point di atas (yaitu dibunuh-pen), harus menyempurnakan Al-Ijra`at (urusan, administrasi) pembuktian yang lazim di Pengadilan-Pengadilan syari’at, Hai‘ah At-Tamyiz dan Mahkamah Agung dalam rangka bara`atun lidzdzimmah (pertanggungjawaban di hadapan Allah) dan kehati-hatian terhadap nyawa. Dan untuk menunjukkan bahwasanya negeri ini (Arab Saudi-pen.) terikat dengan segala ketentuan syari’at untuk membuktikan kejahatan dan menetapkan hukumannya.<br />
Ketiga : Majelis memandang perlunya menyebarkan hukuman ini melalui media massa.<br />
Dan salam dan shalawat semoga senantiasa terlimpahkan kepada hamba dan Rasul-Nya, Nabi kita Muhammad dan kepada keluarga dan shahabatnya.<br />
Penulis: Majelis Hai‘ah Kibar ‘Ulama (Saudi Arabia) http://darussalaf.or.id/stories.php?id=738<br />
http://www.an-nashihah.com/?page=artikel-detail&amp;topik=&amp;artikel=5</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/assunnahindonesia.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/assunnahindonesia.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/assunnahindonesia.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/assunnahindonesia.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/assunnahindonesia.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/assunnahindonesia.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/assunnahindonesia.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/assunnahindonesia.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/assunnahindonesia.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/assunnahindonesia.wordpress.com/38/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=assunnahindonesia.wordpress.com&blog=8506513&post=38&subd=assunnahindonesia&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://assunnahindonesia.wordpress.com/2009/07/18/hukuman-bagi-pelaku-terorisme-dalam-syari%e2%80%99at-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f495a24dbd70dd1bb48151a098184ae7?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Kajian Islam Assunnah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>ISLAM BICARA TENTANG SIHAQ (LESBI)</title>
		<link>http://assunnahindonesia.wordpress.com/2009/07/14/islam-bicara-tentang-sihaq-lesbi/</link>
		<comments>http://assunnahindonesia.wordpress.com/2009/07/14/islam-bicara-tentang-sihaq-lesbi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 14 Jul 2009 01:57:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Kajian Islam Assunnah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Muslimah]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[sex]]></category>
		<category><![CDATA[3gp]]></category>
		<category><![CDATA[homo]]></category>
		<category><![CDATA[homo sex]]></category>
		<category><![CDATA[hubungan sex sejenis]]></category>
		<category><![CDATA[lesbi]]></category>
		<category><![CDATA[lesbian]]></category>
		<category><![CDATA[porno]]></category>
		<category><![CDATA[sex undercover]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://assunnahindonesia.wordpress.com/2009/07/14/islam-bicara-tentang-sihaq-lesbi/</guid>
		<description><![CDATA[Sihaq (lesbi) adalah apa yang terjadi antara wanita dengan wanita berupa gesekan dua farji (kemaluan wanita).
A. Definisi Lesbi
Berkata penulis kamus Al-Lisan[1], “kata اَلسَّحْقُ artinya ialah yang lembut dan yang halus, dan مُسَاحَقَةُ النِّسَاءِ adalah  kalimat lafal yang terlahir (darinya).”
Ibnu Qudamah berkata dalam kitabnya Al-Mughni (10/162), “Jika telah bergesek dua wanita maka keduanya melakukan zina yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=assunnahindonesia.wordpress.com&blog=8506513&post=36&subd=assunnahindonesia&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Sihaq (lesbi) adalah apa yang terjadi antara wanita dengan wanita berupa gesekan dua farji (kemaluan wanita).</p>
<p>A. Definisi Lesbi</p>
<p>Berkata penulis kamus Al-Lisan[1], “kata اَلسَّحْقُ artinya ialah yang lembut dan yang halus, dan مُسَاحَقَةُ النِّسَاءِ adalah  kalimat lafal yang terlahir (darinya).”<span id="more-36"></span></p>
<p>Ibnu Qudamah berkata dalam kitabnya Al-Mughni (10/162), “Jika telah bergesek dua wanita maka keduanya melakukan zina yang terlaknat berdasarkan apa yang diriwayatkan dari Nabi Shallallaahu ’alaihi wasallam bahwasanya Beliau Shallallaahu ’alaihi wasallam bersabda,</p>
<p>” إِذَا أَتَتِ الْمَرْأَةُ الْمَرْأَةَ فَهُمَا زَانِيَتَانِِ “</p>
<p>“Apabila seorang wanita mendatangi (menyetubuhi) seorang wanita maka keduanya berzina.” tidak ada batasan dalam hal ini pada keduanya karena tidak ada ilaj [2]( إِيْلاجٌ ) di dalamnya.</p>
<p>Maka hal itu serupa dengan mubasyaroh [3]( مُبَاشَرَةٌ )tanpa farji dan keduanya harus dihukum karena telah berbuat zina yang tidak ada batasan di dalamnya, persis dengan seorang lelaki yang menggauli wanita tanpa jima’ (hubungan intim).”</p>
<p>Al-Imam Al-Alusi berkata di dalam Ruhul Ma’ani, Jilid ke-8, hlm. 172-173, setelah berbicara tentang gay dan kejelekannya, beliau Rahimahullah berkata,</p>
<p>” وَأُلْحِقَ بِهَا السِّحَاقُ وَبَدَا أَيْضًا فِيْ قَوْمِ لُوْطٍ، فَكَانَتِ الْمَرْأَةُ تَأْتِي الْمَرْأَةَ “</p>
<p>“Sihaq (lesbi) masuk dalam kategori liwat yang juga terjadi pada kaum Luth, yaitu seorang wanita menyetubuhi wanita.”</p>
<p>Dari Hudzaifah Radhiallaahu ’anhu,</p>
<p>“إِنَّمَا حَقُّ الْقَوْلِ عَلَى قَوْمِ لُوْطٍ حِيْنَ اسْتَغْنَى النِّسَاءُ بِالنِّسَاءِ ، وَالرِّجَالُ بِالرِّجَالِ”</p>
<p>“Sesungguhnya benarlah ucapan (Allah Subhaanahu wa Ta’ala) atas kaum Luth tatkala kaum wanita (dari mereka) merasa cukup dengan para wanita dan kaum lelaki merasa cukup dengan para lelaki.”[4]</p>
<p>Diriwayatkan dari Abu Hamzah, beliau berkata, ”Saya pernah mengatakan kepada Muhammad bin Ali bahwa:</p>
<p>“عَذَّبَ اللهُ نِسَاءَ قَوْمِ لُوْطٍ لِعَمَلِ رِجَالِهِمْ”’</p>
<p>“Allah ’Azza Wa Jalla mengadzab para wanita kaum Luth karena perbuatan para lelaki mereka?”</p>
<p>Kemudian, Muhammad bin Ali berkata:</p>
<p>“اَللهُ أَعْدَلُ مِنْ ذَلِكَ ، اِسْتَغْنَى الرِّجَالُ بِالرِّجَالِ ، وَالنِّسَاءُ بِالنِّسَاءِ”</p>
<p>“Allahk lebih adil dari itu (adanya adzab) karena, kaum lelaki telah merasa cukup dengan para lelaki dan kaum wanita telah merasa cukup dengan para wanita.”[5]</p>
<p>B. Hukuman Perbuatan Sihaq (Lesbi)</p>
<p>Kita telah melihat apa yang dinukil oleh sebagian (ulama) tentang hukuman Allah Subhaanahu wa ta’ala  terhadap para wanita kaum Luth bersamaan dengan para lelaki mereka, yaitu ketika para lelaki merasa cukup dengan kaum lelaki maka hukumannya pun telah diketahui, tidaklah samar bagi seorang pun.</p>
<p>Meskipun Ibnul Qayyim berkata,</p>
<p>” وَلَكِنْ لاَ يَجِبُ الْحَدُّ بِذَلِكَ لِعَدَمِ الإِيْلاَجِ، وَإِنْ أُطْلِقَ عَلَيِهِمَا اسْمُ الزِّنَا الْعَامُ كَزِنَا الْعَيْنِ وَالْيَدِ وَالرَّجُلِ وَالْفَمِ “</p>
<p>“Akan tetapi, tidaklah wajib padanya (yaitu dalam perbuatan lesbi) hukuman (bunuh) karena tidak adanya ilaj walaupun disematkan kepada keduanya[6] nama zina secara umum, seperti zina mata, zina tangan, zina kaki, dan zina mulut.”[7]</p>
<p>Demikian juga, Selain beliau ada yang berkata,</p>
<p>” أَنَّهُ لَيْسَ فِيْهِ إِلاَّ التَّعْزِيْرُ “</p>
<p>“Tidaklah ada pada perbuatan lesbi, kecuali ta’zir[8].“</p>
<p>Akan tetapi, tidaklah hal tersebut menjadikan kita untuk menyepelekan dan menganggap remeh dosa lesbi karena seorang wanita jika menjalani dosa tersebut, ia telah meletakkan kedua kakinya di atas jalan pebuatan yang keji. Ia akan melakukan yang selain dari itu dengan lebih cepat, jika terbuka sebuah kesempatan (baginya). Dan jika hukumannya berupa ta’zir (hukuman selain dibunuh), apakah setiap wanita yang melakukan hal tersebut akan pergi untuk dita’zir dan disucikan atau hukumannya ditangguhkan sampai (datang) hari kerugian dan penyesalan?</p>
<p>وَلَعَذَابُ الآخِرَةِ أَشَقُّ</p>
<p>“Dan sesungguhnya azab akhirat adalah lebih keras.” (QS. Ar-Ra’d [13]: 34)</p>
<p>SUMBER :</p>
<p>Buku SEKS BEBAS UNDERCOVER (Halaman 84-87), Penulis Asy-Syaikh Jamal Bin Abdurrahman Ismail dan dr.Ahmad Nida, Penerjemah Syuhada abu Syakir Al-Iskandar As-Salafi, Penerbit Toobagus Publishing, Bandung. Dikutip dari Blog Al Akh dr. Abu Hana.</p>
<p>[1] Lisaanul ‘Arab pada judul سحق.</p>
<p>[2] Ilaj ( إِيْلاجٌ ) ialah masuknya kepala zakar pria pada kemaluan wanita.</p>
<p>[3] Mubasyarah (مُبَاشَرَةٌ )ialah hubungan badan antara suami dan istri.</p>
<p>[4] Para perawi hadits ini terpercaya, hadits ini dikeluarkan oleh Al-Baihaqi dalam Syu’b Al-Iimaan dan oleh As-Suyuthi dalam Ad-Daar Al-Mantsuur (3/100).</p>
<p>[5] Hadits ini dikeluarkan oleh Al-Baihaqi, Ibnu Abiddunya dan Ibnu ‘Asakir.</p>
<p>[6] Yang dimaksud oleh Ibnul Qayyim dengan ucapannya “kepada keduanya” ialah seorang lelaki menggauli lelaki lain dengan kemaluan tanpa adanya ilaj dan seorang wanita yang menggauli wanita lain maka tidak terjadi ilaj padanya.</p>
<p>[7] Al-Jawaab Al-Kaafi, hlm. 201.</p>
<p>[8] Ta’zir adalah hukuman bagi para pelaku maksiat tidak sampai dibunuh.</p>
<p>http://darussalaf.or.id/stories.php?id=1515</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/assunnahindonesia.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/assunnahindonesia.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/assunnahindonesia.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/assunnahindonesia.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/assunnahindonesia.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/assunnahindonesia.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/assunnahindonesia.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/assunnahindonesia.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/assunnahindonesia.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/assunnahindonesia.wordpress.com/36/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=assunnahindonesia.wordpress.com&blog=8506513&post=36&subd=assunnahindonesia&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://assunnahindonesia.wordpress.com/2009/07/14/islam-bicara-tentang-sihaq-lesbi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f495a24dbd70dd1bb48151a098184ae7?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Kajian Islam Assunnah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Membongkar Kesesatan LDII : Apa itu Manqul (1)</title>
		<link>http://assunnahindonesia.wordpress.com/2009/07/13/membongkar-kesesatan-ldii-apa-itu-manqul-1/</link>
		<comments>http://assunnahindonesia.wordpress.com/2009/07/13/membongkar-kesesatan-ldii-apa-itu-manqul-1/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 13 Jul 2009 00:08:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Kajian Islam Assunnah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aliran/Hizbiyyah]]></category>
		<category><![CDATA[imam]]></category>
		<category><![CDATA[islam Jama'ah]]></category>
		<category><![CDATA[LDII]]></category>
		<category><![CDATA[manqul]]></category>
		<category><![CDATA[MMM]]></category>
		<category><![CDATA[mursyid]]></category>
		<category><![CDATA[nur hasan ubaidah]]></category>
		<category><![CDATA[tafsir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://assunnahindonesia.wordpress.com/?p=32</guid>
		<description><![CDATA[Jangan khawatir…
Jangan takut…
Baca dulu…
Semoga Allah senantiasa memberimu petunjuk.

Pengertian Manqul dalam Ajaran LDII
Manqul H Nur Hasan Ubaidah adalah proses pemindahan ilmu dari guru ke murid. Ilmu itu harus musnad (mempunyai sandaran) yang disebut sanad, dan sanad itu harus mutashil (bersambung) sampai ke Rasulullah sehingga manqul musnad muttashil (disingkat M.M.M.) diartikan belajar atau mengaji Al Quran dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=assunnahindonesia.wordpress.com&blog=8506513&post=32&subd=assunnahindonesia&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><span style="font-family:Tahoma,Verdana,Arial,sans-serif;color:#333333;">Jangan khawatir…<br />
Jangan takut…<br />
Baca dulu…<br />
Semoga Allah senantiasa memberimu petunjuk.<br />
<span id="more-32"></span><br />
Pengertian Manqul dalam Ajaran LDII<br />
Manqul H Nur Hasan Ubaidah adalah proses pemindahan ilmu dari guru ke murid. Ilmu itu harus musnad (mempunyai sandaran) yang disebut sanad, dan sanad itu harus mutashil (bersambung) sampai ke Rasulullah sehingga manqul musnad muttashil (disingkat M.M.M.) diartikan belajar atau mengaji Al Quran dan hadits dari Guru dan gurunya bersambung terus sampai ke Rasulullah.<br />
Atau mempunyai urutan guru yang sambung bersambung dari awal hingga akhir (demikian menurut kyai haji Kastaman, kiyai LDII dinukil dari bahaya LDII hal.253)<br />
Yakni: Waktu belajar harus tahu gerak lisan/badan guru, telinga langsung mendengar, dapat menirukan amalannya dengan tepat, terhalang dinding [Menurut mereka, berkaitan dengan terhalang dinding sekarang sudah terhapus. Demikian dikabarkan kepada kami melalui jalan yang kami percaya. Tapi sungguh aneh, aqidah yang sangat inti bahkan menjadi ciri khas kelompok ini bisa berubah-rubah. Demikiankah aqidah?! - pen] atau lewat buku tidak sah sedang murid tidak dibenarkan mengajarkan apa saja yang tidak manqul sekalipun ia menguasai ilmu tersebut, kecuali murid tersebut telah mendapatkan ijazah (ijin untuk mengajarkan-red) [Ijazah artinya pemberian ijin untuk meriwayatkan hadits misalnya saya katakan: 'Saya perbolehkan kamu untuk meriwayatkan hadits-hadits yang telah saya riwayatkan dari guru saya'- pen] dari guru, maka ia boleh mengajarkan seluruh isi buku yang telah diijazahkan kepadanya itu&#8221; [Drs Imron AM, selintas mengenai Islam Jama'ah dan ajarannya, Dwi Dinar, Bangil, 1993 hal. 24 dinukil dari Bahaya LDII hal. 258- pen]</span></p>
<p>Keyakinan LDII tentang Manqul<br />
1. Mereka meyakini dalam mempelajari ajaran agama harus manqul musnad dan muttashil, bila tidak maka tidak sah ilmunya, ibadahnya ditolak dan masuk neraka.<br />
2. Nur Hasan mengaku bahwa dirinyalah satu-satunya jalur untuk menimba ilmu secara musnad muttashil di Indonesia bahkan di dunia., atas dasar itu ia mengharamkan untuk menimba ilmu dari jalur lain.<br />
3. Ia mendasari kayakinannnya itu dengan dalil-dalil, -yang sesungguhnya tidak tepat sebagai dalil-.</p>
<p>Kajian atas Keyakinan dan Dalil-Dalil mereka</p>
<p>Kajian atas point pertama:<br />
a. Keyakinannya bahwa ilmu tidak sah kecuali bila diperoleh dengan musnad mutashil dan manqul, adalah keyakinan yang tidak berdasarkan dalil, adapun dalil-dalil yang dia pakai berkisar antara lemah dan tidak tepat sebagai dalil. Seperti yang akan anda lihat nanti Insya Allah.</p>
<p>b. Bahwa ini bertentangan dengan dalil-dalil syar&#8217;i yang menunjukan bahwa sampainya ilmu tidak mesti dengan manqul, bahkan kapan ilmu itu sampai kepadanya dan ilmu itu benar, maka ilmu itu adalah sah dan harus ia amalkan seperti firman Allah: …وأوحي إلي هذا القرآن لأنذركم به ومن بلغ &#8220;Dan diwahyukan kepadaku Al Quran ini untuk aku peringatkan kalian dengannya dan siapa saja yang Al Quran sampai padanya&#8221; [Al An'am:19]<br />
Mujahid mengatakan: dimanapun Al Quran datang maka ia sebagai penyeru dan pemberi peringatan. Kata (ومن بلغ) Ibnu Abbas menafsirkannya: &#8220;Dan siapa saja yang Al Quran sampai kepadanya, maka Al Quran sebagai pemberi peringatan baginya.&#8221;</p>
<p>Demikian pula ditafsirkan oleh Muhammad bin Ka&#8217;b, As Suddy [Tafsir at Thabari:5/162-163], Muqatil [Tafsir al Qurthubi:6/399], juga kata Ibnu Katsir [2/130]. Sebagian mengatakan : &#8220;Berarti bahwa Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wasallam sebagai pemberi peringatan bagi orang yang sampai kepadanya Al Quran.&#8221; Asy Syinqithi mengatakan: &#8220;Ayat mulia ini menegaskan bahwa Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wasallam pemberi peringatan bagi setiap orang yang Al Quran sampai kepadanya, siapapun dia. Dan dipahami dari ayat ini bahwa peringatan ini bersifat umum bagi semua yang sampai kepadanya Al Quran, juga bahwa setiap yang sampai padanya Al Quran dan tidak beriman dengannya maka ia di Neraka&#8221;. [Tafsir Adhwa'ul Bayan:2/188 lihat pula tafsir-tafsir di atas-pen] Maka dari tafsir-tafsir para ulama di atas &#8211; jelas bahwa tidak seorangpun dari mereka mengatakan bahwa sampainya ilmu harus dengan musnad muttashil atau bahkan manqul ala LDII.</p>
<p>Bahkan siapa saja yang sampai padanya Al Quran dengan riwayat atau tidak, selama itu memang ayat Al Quran, maka ia harus beriman dengannya apabila tidak maka nerakalah tempatnya. Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wasallam juga bersabda:بلغوا عني ولو آية&#8221;Sampaikan dariku walaupun satu kalimat&#8221; [Shahih, HR Ahmad Bukhari dan Tirmidzi]. Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wasallam tidak mengharuskan cara manqul ala LDII dalam penyampaian ajarannya.</p>
<p>c. Keyakinan mereka bertentangan dengan perbuatan Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wasallam, dimana beliau menyampaikan ilmu dengan surat kepada para raja. Seperti yang dikisahkan sahabat Anas bin Malik: عَنْ أَنَسٍ أَنَّ نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَتَبَ إِلَى كِسْرَى وَإِلَى قَيْصَرَ وَإِلَى النَّجَاشِيِّ وَإِلَى كُلِّ جَبَّارٍ يَدْعُوهُمْ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى وَلَيْسَ بِالنَّجَاشِيِّ الَّذِي صَلَّى عَلَيْهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ<br />
&#8220;Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wasallam menulis surat kepada Kisra, Qaishar, Najasyi dan kepada selurus penguasa, mengajak mereka kepada Allah. bukan an Najasyi yang Nabi menshalatinya&#8221; [Shahih, HR Muslim, Kitabul Jihad….no:4585 cet Darul Ma'rifah] (Surat Nabi kepada Heraqlius) [Shahih, HR Bukhari no:7 dan Muslim: 4583]. An Nawawi mengatakan ketika mensyarah hadits ini: &#8220;Hadits ini (menunjukkan) bolehnya beramal dengan (isi) surat.&#8221; [Syarh Muslim:12/330] Surat Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wasallam kepada raja Bahrain, lalu kepada Kisra [Shahih, HR al Bukhari, Fathul Bari:1/154]dan banyak lagi surat beliau kepada raja atau tokoh-tokoh masyarakat, bisa anda lihat perinciannya dalam kitab Zadul Ma&#8217;ad:1/116120 karya Ibnul Qoyyim [Cet Ar Risalah ke 30 Thn. 1417/1997]</p>
<p>Surat-menyurat Nabi ini tentu tidak sah menurut kaidah manqulnya Nur Hasan Ubaidah. Adapun Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wasallam menganggap itu sah, sehingga Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wasallam menerima Islam &#8211; mereka yang masuk Islam &#8211; karena surat itu tidak menganggap mereka kafir karena tidak manqul. Dan Nabi menganggap surat itu sebagai hujjah atas mereka yang tidak masuk Islam setelah datangnya surat itu, sehingga tiada alasan lagi jika tetap kafir, seandainya sistem surat-menyurat itu tidak sah, mengapa Nabi menganggapnya sebagai hujjah atas mereka??.</p>
<p>Kemudian setelah Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wasallam, cara inipun dipakai oleh para sahabatnya seperti surat Umar kepada Abu Musa al &#8216;Asy &#8216;ari yang terdapat didalamnya hukum-hukum yang berkaitan dengan Qadha&#8217; [Riwayat Ibnu Abi Syaibah, ad Daruqhutni al Baihaqi dan lain-lain `dishahihkan oleh al Albani dalam Irwaul Ghalil:8/241, Ahmad Syakir dan lain-lain -pen], lihat perinciannya dalam buku khusus membahas masalah ini berjudul رسالة عمر ابن الخطاب إلى أبي موسى الأشعري في القضاء و آدابه رواية ودراية karya Ahmad bin Umar bin Salim Bazmul.], Aisyah menulis surat kepada Hisyam bin Urwah berisi tentang shalat [al Kifayah fi 'Ilmirriwayah:343], Mu&#8217;awiyahpun menulis kepada al Mughirah bin Syu&#8217;bah tentang dzikir setelah shalat [Shahih, HR Bukhari dan Muslim], Utsman bin Affan mengirim mushaf ke pelosok-pelosok [Riwayat al Bukhari secara Mu'allaq:1/153 dan secara Musnad:9/11], belum lagi para ulama setelah mereka. Namun semuanya ini dalam konsep manqulnya Nur Hasan Ubaidah tidak sah, berarti teori &#8216;manqul anda&#8217; justru tidak manqul dari mereka, sebab ternyata menurut mereka semua sah. Dan pembaca akan lihat nanti &#8211; Insya Allah &#8211; komentar para ulama tentang ini.</p>
<p>Surat-menyurat ini lalu diistilahkan dengan mukatabah, dan para ulama ahlul hadits menjadikannya sebagai salah satu tata cara tahammul wal ada&#8217; (mengambil dan menyampaikan hadits), bahkan mereka menganggap ini adalah cara yang musnad dan muttashil, walaupun tidak diiringi dengan ijazah. Ibnus Sholah mengatakan: &#8220;Itulah pendapat yang benar dan masyhur diatara ahlul hadits…dan itu diamalkan oleh mereka serta dianggap sebagai musnad dan maushul (bersambung) [Ulumul Hadits:84] . As Sakhowi juga mengatakan: &#8220;Cara itu benar menurut pendapat yang shahih dan masyhur menurut ahlul hadits …. dan mereka berijma&#8217; (sepakat) untuk mengamalkan kandungan haditsnya serta mereka menganggapnya musnad tanpa ada khilaf (perselisihan) yang diketahui.&#8221; [Fathul Mughits:3/5]</p>
<p>Al Khatib al Baghdadi menyebutkan: &#8220;Dan sungguh surat-surat Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wasallam menjadi agama yang harus dianut dan mengamalkan isinya wajib bagi umat manusia ini, demikian pula surat-surat Abu Bakar, Umar dan selain keduanya dari para Khulafar ar Rasyidin maka itu harus diamalkan isinya. Juga surat seorang hakim kepada hakim yang lainnya dijadikan sebagai dasar hukum dan diamalkan.&#8217; [al Kifayah :345] . Jadi, ini adalah cara yang benar dan harus diamalkan, selama kita tahu kebenaran tulisan tersebut maka sudah cukup. [lihat, al Baitsul hatsits:123 dan Fathul mughits:3/11]</p>
<p>Imam al Bukhari pun mensahkan cara ini, dimana beliau membuat sebuah bab dalam kitab Shahihnya berjudul : &#8220;Bab (riwayat-riwayat) yang tersebut dalam hal munawalah dan surat/tulisan ulama yang berisi ilmu ke berbagai negeri.&#8221; [Fathul Bari:1/153]</p>
<p>Kalaulah &#8216;manqul kalian&#8217; dimanqul dari para ulama penulis Kutubus Sittah, mengapa Imam Bukhari menyelisihi kalian?? Apa kalian cukupkan dengan kitab-kitab &#8216;himpunan&#8217;, sehingga tidak membaca Shahih Bukhari walaupun ada di bab-bab awal, sehingga hal ini terlewatkan oleh kalian?? Demikian pula Imam Nasa&#8217;i menyelisihi kalian, karena beliau ketika meriwayatkan dari gurunya yang bernama Al Harits Ibnu Miskin beliau hanya duduk di balik pintu, karena tidak boleh mengikuti kajian haditsnya Sebabnya, karena waktu itu imam Nasa&#8217;i pakai pakaian yang membuat curiga al Harits ibnu Miskin dan ketika itu al Harits takut pada urusan-urusan yang berkaitan dengan penguasa sehingga beliau khawatir imam Nasa&#8217;i sebagai mata-mata maka beliau melarangnya [Siyar A'lam an Nubala:14/130], sehingga hanya mendengar di luar majlis. Oleh karenanya ketika beliau meriwayatkan dari guru tersebut beliau katakan: حدثنا الحارث بن مسكين قراءة عليه وأنا أسمع&#8221;Al Harits Ibnu Miskin memberitakan kepada kami, dengan cara dibacakan kepada beliau dan saya mendengarnya&#8221; dan anehnya riwayat semacam ini ada pada kitab himpunan kalian Kitabush Sholah hal. 4, &#8220;Apa kalian tidak menyadari apa maksudnya??&#8221;</p>
<p>d. Istilah &#8216;manqul&#8217; sebagai salah satu bidang ilmu ini adalah istilah yang benarbenar baru dan adanya di Indonesia pada Jama&#8217;ah LDII. Ini menunjukan bahwa ini bukan berasal dari para ulama. Adapun manqul sendiri adalah bahasa Arab yang berarti dinukil atau dipindah, dan ini sebagaimana bahasa Arab yang lain dipakai dalam pembicaraan. Namun hal itu hanya sebatas pada ungkapan bahasa -bukan sebagai istilah atau ilmu tersendiri yang memiliki pengertian khusus &#8211; apalagi konsekwensi khusus dan amat berbahaya.</p>
<p>e. Adapun musnad dan mutashil, memang ada dalam ilmu Musthalah dan masing masing punya definisi tersendiri. Musnad salah satu artinya dalam ilmu mushtolahul hadits adalah &#8216;Setiap hadits yang sampai kepada Nabi dan sanadnya bersambung/mutashil&#8217; [Min atyabil manhi fi 'ilmil Musthalah:8]. Akan tetapi perlu diketahui bahwa persyaratan musnad ini adalah persyaratan dalam periwayatan hadits dari Nabi, bukan persyaratan mengamalkan ilmu. Harus dibedakan antara keduanya, tidak bisa disamakan antara riwayat dan pengamalan.</p>
<p>Sebagaimana akan anda lihat nanti &#8211; Insya Allah &#8211; dalam pembahasan al wijadah, bahwa al wijadah itu secara riwayat terputus Namun secara amalan harus diamalkan. Orang yang tidak membedakan antara keduanya dan mewajibkan musnad mutashil dalam mengamalkan ilmu maka telah menyelisihi ulama ahlul hadits.</p>
<p>f. Musnad muttashilpun bukan satu-satunya syarat dalam riwayat hadits. Karena hadits yang shahih itu harus terpenuhi padanya 5 syarat yakni pertama, diriwayatkan oleh seorang yang adil [adil dalam pengertian ilmu mushtalah adalah seorang muslim, baligh, berakal selamat dari kefasikan dan hal-hal yang mencacat kehormatannya (muru'ah) [Min Atyabil Manhi fi Ilmil Musthalah:13]-pen, kedua yakni yang sempurna hafalannya atau penjagaannya terhadap haditsnya, ketiga, sanadnya bersambung, keempat, tidak syadz [Syadz artinya, seorang rawi yang bisa diterima menyelisi yang lebih utama dari dirinya [nuzhatun nadzor] yakni dalam meriwayatkan hadits bertentangan dengan rawi yang lebih kuat darinya atau lebih banyak jumlahnya. Sedang mu&#8217;allal artinya memiliki cacat atau penyakit yang tersembunyi sehingga tampaknya tidak berpenyakit padahal penyakitnya itu membuat hadits itu lemah. -pen] dan kelima tidak mu&#8217;allal.</p>
<p>Kalaupun benar –padahal salah- apa yang dikatakan oleh Nurhasan bahwa ilmu harus musnad muttashil, mana syarat-syarat yang lain ? Kenapa hanya satu yang diambil ? Jangan-jangan dia sengaja disembunyikan karena memang tidak terpenuhi padanya !</p>
<p>Atau kalau kita berhusnudhon, ya mungkin tidak tahu syarat-syarat itu, atau lupa, apa ada kemungkinan lainnya lagi?? Dan semua kemungkinan itu pahit. Jadi tidak cukup sekedar musnad muttashil bahkan semua syaratnya harus terpenuhi dan tampaknya keempat syarat yang lain memang tidak terpenuhi sama sekali. Hal itu bisa dibuktikan apabila kita melihat kejanggalan-kejanggalan yang ada pada ajaran LDII, misalnya dalam hal imamah, bai&#8217;at, makmum sholat, zakat, dan lain-lain. Ini kalau kita anggap syarat Musnad Muttashil terpenuhi pada mereka, sebenarnya itu juga perlu dikaji.</p>
<p>g. Amal LDII dengan prinsip ini menyelisihi amal muslimin sejak Zaman Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wasallam sampai saat ini.</p>
<p>h. Kenyataannya mereka hanya mementingkan MMM, tidak mementingkan keshahihan hadits, buktinya dalam buku himpunan mereka ada hadits-hadits dha&#8217;if, bahkan maudhu&#8217; (palsu). Lantas apalah artinya MMM kalau haditsnya tidak shahih karena rawinya tidak tsiqoh misalnya? [Contoh pada pembahasan terakhir -pen]</p>
<p>i. Dari siapa &#8216;manqul&#8217; ini dimanqul? Kalau memang harus manqul bukankah &#8216;metode manqul&#8217; itu juga harus manqul?? Karena ini justru paling inti, Nur Hasan atau para pengikutnya harus mampu membuktikan secara ilmiyah bahwa manqul ini &#8216;dimanqul&#8217; dari Nabi, para sahabatnya dan para ulama ahli hadits. Kalau ia tidak bisa membuktikannya, berarti ia sendiri yang pertama kali melanggar kaidah manqulnya. Kalau ia mau buktikan, maka mustahil bisa dibuktikan, karena seperti yang kita lihat dan akan kita lihat &#8211; Insya Allah &#8211; ternyata manqul ini menyelisihi Nabi, para sahabat, dan ulama ahlul hadits.</p>
<p>j. Dalam ilmu Mushtholah al Hadits pada bab tahammul wal ada&#8217; (menerima dan menyampaikan hadits) terdapat cara periwayatan yang diistilahkan dengan al Wijadah. Yaitu seseorang mendapatkan sebuah hadits atau kitab dengan tulisan seseorang dengan sanadnya [al Baitsul Hatsits:125]. Dari sisi periwayatan, al wijadah termasuk munqothi&#8217; [Munqothi: terputus sanadnya. Mursal: terputus dengan hilangnya rawi setelah tabi'in. Mu'allaq: terputus dengan hilangnya rawi dari bawah sanad - pen], mursal [Ulumul hadits:86, Fathul Mughits:3/22] atau mu&#8217;allaq, Ibnu ash Sholah mengatakan: &#8220;Ini termasuk munqothi&#8217; dan mursal…&#8221;, ar Rasyid al &#8216;Atthor mengatakan: &#8220;Al wijadah masuk dalam bab al maqthu&#8217; menurut ulama (ahli) periwayatan&#8221;.[Fathul Mughits:3/22]</p>
<p>Bahkan Ibnu Katsir menganggap ini bukan termasuk periwayatan, katanya: &#8220;Al Wijadah bukan termasuk bab periwayatan, itu hanyalah menceritakan apa yang ia dapatkan dalam sebuah kitab.&#8221; [al Baitsul Hatsits:125]</p>
<p>Jadi al wijadah ini kalau menurut kaidah M.M.M-nya Nur Hasan tentu tidak terpenuhi kategorinya, sehingga tentu tidak boleh bahkan haram mengamalkan ilmu yang diperoleh dengan cara al wijadah. Tetapi maksud saya disini ingin menerangkan pandangan ulama tentang mengamalkan ilmu yang didapat dengan al wijadah, ternyata disana ada beberapa pendapat:<br />
a. Sebagian orang terutama dari kalangan Malikiyah (pengikut madzhab Maliki) melarangnya.<br />
b. Boleh mengamalkannya, ini pendapat asy Syafi&#8217;i dan para pemuka madzhab Syafi&#8217;iyyah.<br />
c. Wajib mengamalkannya ketika dapat rasa percaya pada yang ia temukan. Ini pendapat yang dipastikan ahli tahqiq dari madzhab as Syafi&#8217;iyyah dalam Ushul Fiqh. [lihat Ulumul Hadits karya Ibnu Sholah:87]</p>
<p>Ibnush Sholah mengatakan tentang pendapat yang ketiga ini: &#8220;Inilah yang mesti dilakukan di masa-masa akhir ini, karena seandainya pengamalan itu tergantung pada periwayatan maka akan tertutuplah pintu pengamalan hadits yang dinukil (dari Nabi) karena tidak mungkin terpenuhinya syarat periwayatan padanya.&#8221; [Ulumul Hadits:87] Yang beliau maksud adalah hanya al wijadah yang ada sekarang. [al Baitsul Hatsits: 126]<br />
An Nawawi mengatakan: &#8216;Itulah yang benar&#8217; [Tadriburrawi:1/491], demikian pula As Sakhowi juga menguatkan pendapat yang mewajibkan. [Fathul Mughits:3/27]<br />
Ahmad Syakir mengatakan: yang benar wajib (mengamalkan yang shahih yang diriyatkan dengan al wijadah). [al Baitsul Hatsits: 126]</p>
<p>Tentu setelah itu disyaratkan bahwa penulis kitab yang ditemukan (diwijadahi) adalah orang yang terpercaya dan amanah dan sanad haditsnya shahih sehingga wajib mengamalkannya. [al Baitsul Hatsits:127] Ali Hasan mengatakan: Itulah yang benar dan tidak bisa terelakkan, seandainya tidak demikian maka ilmu akan terhenti dan akan kesulitan mendapatkan kitab, akan tetapi harus ada patokan-patokan ilmiyah yang detail yang diterangkan para ulama&#8217; dalam hal itu sehingga urusan tetap teratur pada jalannya [Al Baitsul Hatsits:1/368 dengan tahqiqnya]. Dengan demikian pendapat yang pertama tidak tepat lebih-lebih di masa ini. Diantara yang mendukung kebenaran pendapat yang membolehkan atau mewajibkan adalah berikut ini Nabi bersabda:<br />
-أي الخلق أعجب إليكم إيمانا ؟قالوا : الملائكة.قال: وكيف لايؤمنون وهم عند ربهم وذكروا الأنبياء،فقال: وكيف لا يؤمنون والوحي ينزل عليهم ؟!قالوا : ونحن فقال: وكيف لاتؤمنون وأنا بين أظهركم. قالوا فمن يا رسول الله؟ قال قوم يأتون من بعدكم يجدون صحفا يؤمونو بما فيها artinya: &#8220;Makhluk mana yang menurut kalian paling ajaib imannya?&#8221; Mereka mengatakan: &#8220;Para malaikat.&#8221; Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wasallam mengatakan: &#8220;Bagaimana mereka tidak beriman sedang mereka di sisi Rabb mereka?&#8221;. Merekapun (para sahabat) menyebut para Nabi, Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wasallampun menjawab: &#8220;Bagaimana mereka tidak beriman sedang wahyu turun kepada mereka&#8221;. Mereka mengatakan: &#8220;Kalau begitu kami?&#8221; Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wasallam menjawab: &#8220;Bagaimana kalian tidak beriman sedang aku ditengah-tengah kalian.&#8221; Mereka mengatakan : &#8220;Maka siapa Wahai Rasulullah?&#8221; Beliau menjawab: &#8220;Orang-orang yang datang setelah kalian, mereka mendapatkan lembaran-lembaran lalu mereka beriman dengan apa yang di dalamnya.&#8221; [HR Ahmad, Abu Bakar Ibnu Marduyah, ad Darimi, al Hakim dan Ibu 'Arafah, Ali Hasan mengatakan: Cukuplah Hadits itu dalam pandangan saya sebagai Hadits Hasan lighoirihi (bagus dengan jalan-jalan yang lain), semua jalannya lemah namun lemahnya tidak terlalu sehingga dihasankan dengan seluruh jalan-jalannya. Dan al Haitsami dalam al Majma:10/65 serta al Hafidz dalam al Fath:6/7 cenderung kepada hasannya hadits itu. [al Baitsul Hatsits:1/369 dengan tahqiqnya], maraji&#8217;: Ad Dho&#8217;ifah:647-649, syekh al Albani cenderung kepada lemahnya, Fathul Mughits:3/28 ta&#8217;liqnya, Al Mustadrak:4/181, musnad Ahmad:4/106, Sunan ad Darimi:2/108, Ithaful Maharoh:14/63. Tafsir Ibnu Katsir:1/44 Al Baqarah:4- pen]<br />
- Amalan Ibnu Umar, dimana beliau meriwayatkan dari ayahnya dengan al wijadah, al Khatib al Baghdadi dalam bukunya [al kifayah:354] meriwayatkan dengan sanadnya sampai kepada Nafi, dari Ibnu Umar, أنه وجد في قائم سيف عمر بن الخطاب صحيفة فيها ليس فيما دون خمس من ا لابل صدقة فإذا كانت خمسا ففيها شاة<br />
&#8216;Bahwa beliau mendapatkan pada gagang pedang umar sebuah lembaran (tertulis) &#8216;Tidak ada zakat pada unta yang jumlahnya kurang dari lima, kalau jumlahnya 5 maka zakatnya satu kambing jantan…&#8217;<br />
- Abdul Malik bin Habib atau Abu Imran al Jauni beliau adalah seorang Tabi&#8217;in yang Tsiqoh (terpercaya) seperti kata al Hafidz Ibnu Hajar dalam [at Taqrib:621], beliau mengatakan: &#8220;Kami dulu mendengar tentang adanya sebuah lembaran yang terdapat padanya ilmu, maka kamipun silih berganti mendatanginya, bagaikan kami mendatangi seorang ahli fiqih. Sampai kemudian keluarga az Zubair datang kepada kami disini dan bersama mereka orang-orang faqih.&#8221; [Al Kifayah:355 dan Fathul Mughits:3/27]</p>
<p>Bila seperti ini keadaannya maka seberapa besar faidah sebuah sanad hadits yang sampai ke para penulis Kutubus Sittah di masa ini, toh tanpa sanad inipun kita bisa langsung mendapatkan buku mereka. Dan kita dapat mengambil langsung hadits-hadits itu darinya, walaupun tanpa melalui sanad &#8216;muttashil musnad manqul&#8217; kepada mereka. Dan wajib kita mengamalkannya seperti anda lihat keterangan di atas.</p>
<p>Tidak seperti yang dikatakan Nur Hasan bersama LDIInya bahwa tidak boleh mengamalkanya bahkan itu haram!! Subhanallah, pembaca melihat ternyata dalil dan para ulama menyelisihi mereka, jadi dari mana &#8216;manqulmu&#8217; dimanqul?? Ahmad Syakir mengatakan: &#8220;Dan kitab-kitab pokok kitab-kitab induk dalam sunnah Nabi dan selainnya, telah mutawatir periwayatannya sampai kepada para penulisnya dengan cara al wijadah.</p>
<p>Demikian pula berbagai macam buku pokok yang lama yang masih berupa manuskrip yang dapat dipercaya, tidak meragukannya kecuali orang yang lalai dari ketelitian makna pada bidang riwayat dan al wijadah atau orang yang membangkang, yang tidak puas dengan hujjah.[Al Baitsul Hatsits:128].</p>
<p>Oleh karenanya para ulama yang memiliki sanad sampai penulis Kutubus Sittah, tidak membanggakan sanad mereka apabila amalannya tidak sesuai dengan Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wasallam. Bahkan mereka tidak pernah pamer, tidak pula mereka memperalatnya untuk kepentingan pribadi atau kelompok, karena mereka tahu hakekat kedudukan sanad pada masa ini., berbeda dengan yang tidak tahu sehingga memamerkan, memperalat dan…dan…</p>
<p>k. Juga, untuk membuktikan benar atau salahnya ajaran manqul. Kita perlu membandingkan ajaran LDII dengan ajaran Nabi dan para sahabatnya. Seandainya manqulnya benar maka tentu ajaran LDII akan sama dengan ajaran Nabi dan para sahabatnya, kalau ternyata tidak sama maka pastikan bahwa manqul dan ajaran LDII itu salah, dan ternyata itulah yang terbukti.</p>
<p>Berikut ini pokok-pokok ajaran LDII yang berbeda dengan ajaran Nabi dan para sahabatnya:<br />
- Dalam hal memahami bai&#8217;at dan mengkafirkan yang tidak bai&#8217;at.<br />
- Dalam hal mengkafirkan seorang muslim yang tidak masuk LDII<br />
- Dalam hal manqul itu sendiri<br />
- Dalam aturan infaq<br />
- Menganggap najis selain mereka dari muslimin<br />
- Menganggap tidak sah sholat dibelakang selain mereka<br />
- Begitu gampang memvonis seseorang di Neraka padahal dia muslim<br />
- Menganggap tidak sahnya penguasa muslim jika selain golongannya<br />
- Dan lain-lain<br />
[perincian masalah-masalah ini sebagiannya telah kami jelaskan dalam makalah yang lain, dan yang belum akan menyusul insyaallah, tunggulah saatnya!! -pen]<br />
l. Sanad Nur hasan Ubaidah [Seputar sanad Nur Hasan atau Ijazah haditsnya ini banyak cerita unik di kalangan LDII, konon hadits-haditsnya hilang waktu naik becak, yang disampaikan kepada pengikutnya hanya 6.-pen], dalam kitab himpunan susunan LDII pada Kitabush Sholah hal. 124-125 yang sampai kepada Imam at Tirmidzi pada hadits Asma&#8217; wa Shifat Allah, ternyata hadits itu adalah hadits lemah, Ibnu Hajar mengatakan: &#8220;&#8216;Illah (cacat) hadits itu menurut dua syaikh (al Bukhari dan Muslim). Bukan hanya kesendirian al Walid ibnu Muslim (dalam meriwayatkannya), bahkan juga adanya ikhtilaf (perbedaan periwayatan para rawinya), idlthirab (kegoncangan akibat perbedaan itu), tadlis (sifat tadlis pada al Walid ibnu Muslim yaitu mengkaburkan hadits) dan kemungkinan adanya idraj (dimasukkannya ucapan selain Nabi pada matan hadits itu [Fathul Bari, syarah al Bukhari:11/215].). Jadi cacat/&#8217;illah/kelemahan hadits itu ada 5 sekaligus, yaitu tafarrud, ikhtilaf, idlthirab, tadlis dan idraj.&#8221; Imam At Tirmidzipun merasakan kejanggalan pada hadits ini, dimana beliau setelah menyebutkan hadits ini mengatakan: &#8216;Gharib&#8217; (aneh karena adanya tafarrud/kesendirian dalam riwayat) [Sunan at Tirmidzi:5/497, no:3507], demikian pula banyak para ulama menganggap lemah hadits ini seperti Ibnu Taimiyyah, Ibnu Katsir, al Bushiri, Ibnu Hazm, al Albani dan Ibnu Utsaimin. [lihat al Qowa'idul Mutsla:18 dengan catatan kaki Asyraf Abdul Maqshud]. Hadits yang shahih dalam masalah ini adalah tanpa perincian penyebutan Asma&#8217;ul Husna dan itu diriwayatkan al Bukhari dan Muslim</p>
<p>Kajian keyakinan kedua, bahwa dialah satu-satunya jalan manqul…</p>
<p>Apa ini bukan kesombongan, kebodohan serta penipuan terhadap umat?!. Karena sampai saat ini sanad-sanad hadits itu masih tersebar luas di kalangan tuhllabul ilmi, mereka yang belajar hadits di Jazirah Arab, Saudi Arabia dan negara-negara tetangganya, di Pakistan, India atau Afrika, baik yang belajar orang Indonesia atau selain orang Indonesia, mereka banyak mendapatkan Ijazah [Bukan ijazah tamat sekolah, tapi ini istilah khusus dalam ilmu riwayat hadits. Yaitu ijin dari syekh untuk meriwayatkan hadits - pen] riwayat Kutubus Sittah dan yang lain termasuk diantaranya adalah penulis makalah ini. Kalau dia konsekwen dengan ilmu manqulnya, lantas mengapa dia anggap dirinya satu-satunya jalan manqul?? Sehingga kalian &#8211; wahai pengikut LDII &#8211; mengkafirkan yang tidak menuntut ilmu dari kalian, termasuk mereka yang mengambil ilmu dari negara-negara Arab dari ulama/syaikh-syaikh yang punya sanad, padahal mereka mendapat sanad, ternyata kalian kafirkan juga?!</p>
<p>Asy Syaikh al Albani dan murid-muridnya di Yordania, asy Syaikh Abdullah al Qar&#8217;awi dan murid-muridnya, asy Syaikh Hammad al Anshari dan murid-muridnya di Saudi Arabia, asy syaikh Muqbil di Yaman, asy Syaikh Muhammad Dhiya&#8217;urrahman al &#8216;Adhami dari India dan murid-muridnya, dan masih banyak lagi yang lain tak bisa dihitung. Merekapun punya sanad Kutubus Sittah dan selainnya sampai kepada Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wasallam, tapi mereka tidak seperti kalian, wahai Nur Hasan dan pengikutnya. Mereka tahu apa arti sebuah sanad di masa ini, dan perlu diketahui bahwa semua mereka aqidahnya berbeda dengan aqidah kalian, wahai penganut LDII. Mana yang benar, wahai orang yang berakal??</p>
<p>(Bersambung ke Membongkar kesesatan LDII : Bantahan Manqul (2)</p>
<p>(Dikutip dari tulisan al Ustadz Qomar Zainuddin, Lc, pimpinan Pondok Pesantren Darul Atsar, Kedu, Temanggung serta Pimred Majalah Asy Syariah. Judul asli Antara Al Qur&#8217;an, Al Hadits dan &#8216;Manqul&#8217;.)</p>
<p><span style="font-family:Tahoma,Verdana,Arial,sans-serif;color:#333333;"><br />
</span>http://darussalaf.or.id/stories.php?id=374<br />
<span style="font-family:Tahoma,Verdana,Arial,sans-serif;color:#333333;">http://www.salafy.or.id/print.php?id_artikel=974 </span></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/assunnahindonesia.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/assunnahindonesia.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/assunnahindonesia.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/assunnahindonesia.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/assunnahindonesia.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/assunnahindonesia.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/assunnahindonesia.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/assunnahindonesia.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/assunnahindonesia.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/assunnahindonesia.wordpress.com/32/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=assunnahindonesia.wordpress.com&blog=8506513&post=32&subd=assunnahindonesia&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://assunnahindonesia.wordpress.com/2009/07/13/membongkar-kesesatan-ldii-apa-itu-manqul-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f495a24dbd70dd1bb48151a098184ae7?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Kajian Islam Assunnah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hukum Perayaan Malam Nisyfu Sya&#8217;ban</title>
		<link>http://assunnahindonesia.wordpress.com/2009/07/12/hukum-perayaan-malam-nisyfu-syaban/</link>
		<comments>http://assunnahindonesia.wordpress.com/2009/07/12/hukum-perayaan-malam-nisyfu-syaban/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 11 Jul 2009 22:53:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Kajian Islam Assunnah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[hukum puasa]]></category>
		<category><![CDATA[Malam Nisyfu Sya'ban]]></category>
		<category><![CDATA[Nisyfu Sya'ban]]></category>
		<category><![CDATA[persiapan puasa]]></category>
		<category><![CDATA[puasa]]></category>
		<category><![CDATA[puasa Nisyfu Sya'ban]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://assunnahindonesia.wordpress.com/?p=29</guid>
		<description><![CDATA[Sesungguhnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah berfirman (yang artinya) :
&#8220;Pada hari ini telah kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan nikmat-Ku dan telah Kuridhai Islam sebagai agama bagimu &#8220;.
(QS. Al Maidah : 3).
Dan Rasulullah Shalallahu’alaihi Wassallam pernah pernah bersabda (yang artinya):
&#8220;Barang siapa mengada-adakan satu perkara (dalam agama) yang sebelumnya belum pernah ada, maka ia tertolak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=assunnahindonesia.wordpress.com&blog=8506513&post=29&subd=assunnahindonesia&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><span style="font-family:Tahoma,Verdana,Arial,sans-serif;color:#333333;">Sesungguhnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah berfirman (yang artinya) :</p>
<p>&#8220;Pada hari ini telah kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan nikmat-Ku dan telah Kuridhai Islam sebagai agama bagimu &#8220;.<br />
(QS. Al Maidah : 3).<span id="more-29"></span></p>
<p>Dan Rasulullah Shalallahu’alaihi Wassallam pernah pernah bersabda (yang artinya):</p>
<p>&#8220;Barang siapa mengada-adakan satu perkara (dalam agama) yang sebelumnya belum pernah ada, maka ia tertolak &#8220;. (HR. Bukhari Muslim)</p>
<p>dalam riwayat Muslim (yang artinya):</p>
<p>&#8220;Barang siapa mengerjakan perbuatan yang tidak kami perintahkan (dalam agama) maka ia tertolak&#8221;.</p>
<p>Masih banyak lagi hadits-hadits yang senada dengan hadits ini, yang semuanya menunjukan dengan jelas, bahwasanya Allah telah menyempurnakan agama ini untuk umat-Nya. Dia telah mencukupkan nikmat-Nya bagi mereka. Dia tidak mewafatkan nabi Muhammad Shalallahu’alaihi Wassallam kecuali setelah beliau menyelesaikan tugas penyampaian risalahnya kepada umat dan menjelaskan kepada mereka seluruh syariat Allah, baik melalui ucapan maupun pengamalan.</p>
<p>Beliau menjelaskan segala sesuatu yang akan diada-adakan oleh sekelompok manusia sepeninggalnya dan dinisbahkan kepada ajaran Islam baik berupa ucapan ataupun perbuatan, semuanya bid&#8217;ah yang tertolak, meskipun niatnya baik. Para sahabat dan ulama mengetahui hal ini, maka mereka mengingkari perbuatan-perbuatan bid&#8217;ah dan memperingatkan kita dari padanya. Hal ini disebutkan oleh mereka yang mengarang tentang pengagungan sunnah dan pengingkaran bid&#8217;ah seperti Ibnu Wadhah dan Abi Syamah dan lainnya.</p>
<p>Diantara bid&#8217;ah yang biasa dilakukan oleh banyak orang adalah bid&#8217;ah mengadakan upacara peringatan malam nisyfu sya&#8217;ban dan mengkhususkan hari tersebut dengan puasa tertentu. Padahal tidak ada satupun dalil yang dapat dijadikan sandaran, memang ada beberapa hadits yang menegaskan keutamaan malam tersebut akan tetapi hadits-hadits tersebut dhaif sehingga tidak dapat dijadikan landasan. Adapun hadits-hadits yang menegaskan keutamaan shalat pada hari tersebut adalah maudhu&#8217; (palsu).</p>
<p>A1 Hafidz ibnu Rajab dalam bukunya &#8220;Lathaiful Ma&#8217;arif &#8216; mengatakan bahwa perayaan malam nisfu sya&#8217;ban adalah bid&#8217;ah dan hadits-¬hadits yang menerangkan keutamaannya adalah lemah.</p>
<p>Imam Abu Bakar At Turthusi berkata dalam bukunya `alhawadits walbida&#8217; : &#8220;Diriwayatkan dari wadhoh dari Zaid bin Aslam berkata :&#8221;kami belun pernah melihat seorangpun dari sesepuh ahli fiqih kami yang menghadiri perayaan nisyfu sya&#8217;ban, tidak mengindahan hadits makhul (dhaif) dan tidak pula memandang adanya keutamaan pada malam tersebut terhadap malam¬-malam lainnya&#8221;.</p>
<p>Dikatakan kepada Ibnu Maliikah bahwasanya Ziad Annumari berkata:<br />
&#8220;Pahala yang didapat (dari ibadah ) pada malam nisyfu sya&#8217;ban menyamai pahala lailatul qadar.<br />
bnu Maliikah menjawab : Seandainya saya mendengar ucapannya sedang ditangan saya ada tongkat, pasti saya pukul dia. Ziad adalah seorang penceramah.</p>
<p>Al Allamah Syaukani menulis dalam bukunya, fawaidul majmuah, sebagai berikut : Hadits : &#8220;Wahai Ali barang siapa melakukan shalat pada malam nisyfu sya&#8217;ban sebanyak seratus rakaat : ia membaca setiap rakaat Al Fatihah dan Qulhuwallahuahad sebanyak sepuluh kali, pasti Allah memenuhi segala &#8230;. dan seterusnya.<br />
Hadits ini adalah maudhu&#8217;, pada lafadz-lafadznya menerangkan tentang pahala yang akan diterima oleh pelakunya adalah tidak diragukan kelemahannya bagi orang berakal, sedangkan sanadnya majhul (tidak dikenal). Hadits ini diriwayatkan dari jalan kedua dan ketiga, kesemuanya maudhu &#8216; dan perawi¬-perawinya majhul.</p>
<p>Dalam kitab &#8220;Al-Mukhtashar&#8221; Syaukani melanjutkan : &#8220;Hadits yang menerangkan shalat nisfu sya&#8217;ban adalah batil&#8221; .</p>
<p>Ibnu Hibban meriwayatkan hadits dari Ali : &#8220;&#8230;Jika datang malam nisfu sya&#8217;ban bershalat malamlah dan berpusalah pada siang harinya&#8221;. Inipun adalah hadits yang dhaif.</p>
<p>Dalam buku Al-Ala&#8217;i diriwayatkan :<br />
&#8220;Seratus rakaat dengan tulus ikhlas pada malam nisfu sya&#8217;ban adalah pahalanya sepuluh kali lipat&#8221;. Hadits riwayat Ad-Dailamy, hadits ini tidak maudhu; tetapi mayoritas perawinya pada jalan yang ketiga majhul dan dho&#8217;if.</p>
<p>Imam Syaukani berkata : &#8220;Hadits yang menerangkan bahwa dua belas raka&#8217; at dengan tulus ikhlas pahalanya adalah tiga puluh kali lipat, maudhu&#8217;. Dan hadits empat belas raka&#8217;at &#8230;.dst adalah maudhu&#8221;.</p>
<p>Para fuqoha&#8217; banyak yang tertipu oleh hadits-¬hadits maudhu&#8217; diatas seperti pengarang Ihya&#8217; Ulumuddin dan sebagian ahli tafsir. Telah diriwayatkan bahwa sholat pada malam itu yakni malam nisfu sya&#8217;ban yang telah tersebar ke seluruh pelosok dunia semuanya adalah bathil (tidak benar) dan haditsnya adalah maudhu&#8217;.</p>
<p>Al-Hafidh Al-Iraqy berkata : &#8220;Hadits yang menerangkan tentang sholat nisfu sya&#8217;ban maudhu&#8217; dan pembohongan atas diri Rasulullallah Shalallahu’alaihi Wassallam.<br />
Dalam kitab Al-Majmu&#8217;, Imam Nawawi berkata :&#8221;Shalat yang sering kita kenal dengan shalat ragha&#8217;ib berjumlah dua belas raka&#8217;at dikerjakan antara maghrib dan isya&#8217; pada malam jum&#8217;at pertama bulan rajab, dan sholat seratus raka&#8217;at pada malam nisfu sya&#8217;ban, dua sholat ini adalah bid&#8217;ah dan mungkar.</p>
<p>Tak boleh seorangpun terpedaya oleh kedua hadits tersebut hanya karena telah disebutkan didalam kitab Qutul Qulub dan Ihya&#8217; Ulumuddin, sebab pada dasarnya hadits-haduts tersebut bathil (tidak boleh diamalkan). Kita tidak boleh cepat mempercayai orang-orang yang menyamarkan hukum bagi kedua hadits yaitu dari kalangan a&#8217;immah yang kemudian mengarang lembaran-¬lembaran untuk membolehkan pengamalan kedua hadits tersebut.</p>
<p>Syaikh Imam Abu Muhammad Abdurrahman bin Isma&#8217; il Al-Maqdisy telah mengarang suatu buku yang berharga; beliau menolak (menganggap bathil) kedua hadits diatas.<br />
Dalam penjelasan diatas tadi, seperti ayat-ayat Al-Qur&#8217;an dan beberapa hadits serta pendapat para ulama jelaslah bagi pencari kebenaran (haq) bahwa peringatan malam nisfu sya&#8217; ban dengan pengkhususan sholat atau lainnya, dan pengkhususan siang harinya degan puasa itu semua adalah bid’ah dan mungkar tidak ada dasar sandarannya didalam syari&#8217;at Islam ini, bahkan hanya merupakan perkara yang diada-adakan dalam Islam setelah masa hidupnya para shahabat. Marilah kita hayati ayat Al-Qur&#8217;an dibawah ini (yang artinya):<br />
&#8220;Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu dan telah kucukupkan kepadamu nikmat-Ku dan Ku-Ridhoi Islam sebagai agamamu&#8221;.</p>
<p>Dan banyak lagi ayat-ayat lain yang semakna dengan ayat diatas. Selanjutnya Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda (yang artinya):<br />
&#8220;Barang siapa mengada-adakan satu perkara (dalam agama) yang sebelumnya belum pernah ada, maka ia tertolak&#8221;. (HR. Bukhari Muslim).</p>
<p>Dalam hadits lain beliau bersabda (yang artinya):<br />
&#8220;Janganlah kamu sekalian mengkhususkan malam jum &#8216;at dari pada malam-malam lainnya dengan suatu sholat, dan janganlah kamu sekalian mengkhususkan siang harinya untuk berpuasa dari pada hari-hari lainnya, kecuali jika sebelum hari itu telah berpuasa&#8221; (HR. Muslim).</p>
<p>Seandainya pengkhususan suatu malam dengan ibadah tertentu itu dibolehkan oleh Allah, maka bukankah malam jum&#8217;at itu lebih baik dari pada malam-malam lainnya, karena hari jum&#8217;at adalah hari yang terbaik yang disinari oleh matahari ? Hal ini berdasarkan hadits-hadits Rasulullah Shalallahu’alaihi Wassallam yang shohih.</p>
<p>Tatkala Rasulullah Shalallahu’alaihi Wassallam telah melarang untuk mengkhususkan sholat pada malam hari itu ini menunjukkan malam yang lainnya lebih tidak boleh lagi. Kecuali jika ada dalil yang shohih yang mengkhususkannya.</p>
<p>Manakala malam lailatul Qadar dan malam¬-malam bulan puasa itu disyari&#8217;atkan supaya sholat dan bersungguh-sungguh dengan ibadah tertentu, Nabi mengingatkan dan menganjurkan kepada ummatnya agar supaya melaksanakan¬nya, beliaupun juga mengerjakannya. Sebagaimana disebutkan didalam hadits yang shohih (yang artinya):<br />
&#8220;Barang siapa melakukan sholat pada malam bulan ramadhan dengan penuh rasa iman dan mengharap pahala niscaya Allah akan mengampuni dosanya yang telah lewat. Dan barangsiapa yang melakukan sholat pada malam lailatul Qadar dengan penuh rasa iman niscaya Allah akan mengampuni dosa yang telah lewat&#8221; (Muttafaqun &#8216;alahi).</p>
<p>Jika seandainya malam nisfu sya&#8217;ban, malam jum&#8217;at pertama pada bulan rajab, serta malam isra&#8217; mi&#8217;raj diperintahkan untuk dikhususkan dengan upacara atau ibadah tertentu, pastilah Rasululah Shalallahu’alaihi Wassallam menjelaskan kepada ummatnya atau menjalankannya sendiri. Jika memang hal ini pernah terjadi, niscaya telah disampaikan oleh para shahabat kepada kita, mereka tidak akan menyembunyikannya, karena mereka adalah sebaik-baik manusia clan yang paling banyak memberi nasehat setelah Rasululah Shalallahu’alaihi Wassallam.</p>
<p>Dari pendapat-pendapat ulama tadi anda dapat menyimpulkan bahwa tidak ada ketentuan apapun dari Rasulullah Shalallahu’alaihi Wassallam ataupun dari para sahabat tentang keutamaan malam malam nisfu sya&#8217;ban dan malam jum&#8217;at pertama pada bulan Rajab.</p>
<p>Dari sini kita tahu bahwa memperingati perayaan kedua malam tersebut adalah bidah yang diada-adakan dalam Islam, begitu pula pengkhususan dengan ibadah tertentu adalah bid&#8217;ah mungkar; sama halnya dengan malam 27 Rajab yang banyak diyakini orang sebagai malam Isra dan Mi&#8217;raj, begitu juga tidak boleh dirayakan dengan upacara-upacara ritual, berdasarkan dalil-dalil yang disebutkan tadi.<br />
</span><span style="font-family:Tahoma,Verdana,Arial,sans-serif;color:#333333;"><span>Sumber : Buletin Al Atsari </span></span><br />
<span style="font-family:Tahoma,Verdana,Arial,sans-serif;color:#333333;">(Diringkas/ disadur dari kitab Tahdzir minul bida&#8217; karya Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Oleh An Nafi&#8217;ah dan redaksi).</span></p>
<p>http://darussalaf.or.id/stories.php?id=330</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/assunnahindonesia.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/assunnahindonesia.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/assunnahindonesia.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/assunnahindonesia.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/assunnahindonesia.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/assunnahindonesia.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/assunnahindonesia.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/assunnahindonesia.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/assunnahindonesia.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/assunnahindonesia.wordpress.com/29/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=assunnahindonesia.wordpress.com&blog=8506513&post=29&subd=assunnahindonesia&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://assunnahindonesia.wordpress.com/2009/07/12/hukum-perayaan-malam-nisyfu-syaban/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f495a24dbd70dd1bb48151a098184ae7?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Kajian Islam Assunnah</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>